Sang Penyemai Damai

Sang Penyemai Damai telah “turun gunung”, memberi pesan dalam diam, bahwa NKRI, negeri para wali ini, tengah terancam. Di usianya yang cukup tua, sesepuh para ulama itu rela terjun, terlibat dalam kelam dan hiruk-pikuknya dunia politik, berarti ada sesuatu yang maha penting, yakni demi kelangsungan bangsa dan negara yang tercinta ini. Sebab, kita maklum bahwa ada gerakan untuk ganti sistem yang semakin vulgar diteriakan yang berkamuflase di balik ganti presiden.

KH Ma’ruf Amin, turun untuk memberikan tauladan kesantunan dalam berpolitik. Pelajaran akhlaq mulia bahwa jabatan itu hal biasa saja, tidak harus direbut dengan menghalalkan segala cara. Apalagi dengan cara biadab seperti menyebarkan fitnah-fitnah.

Sang Guru para ulama itu rela mendampingi Jokowi yang kenyang akan hujan fitnah. Bahkan fitnah yang paling keji yang mungkin pernah dilontarkan kepada pemimpin negeri ini. Beliau bersedia menjadi perisai bagi sang pemimpin sekaligus menebarkan kedamaian bagi para pembencinya. Tokoh besar ormas terbesar itu merupakan titik temu yang bisa meredam benturan dari kedua bela pihak.

Dengan kealiman beliau, keputusan untuk bersedia menjadi wakil presiden itu pasti telah melewati pertimbangan yang jauh lebih matang. Kehadiran beliau ini juga meneguhkan pembelaan NU akan eksistensi NKRI, sekaligus mengejawantakan pemikiran Kyai Hasyim Asyari tentang relasi hubungan agama dan bangsa.

Agar diketahui oleh masyarakat Indonesia, bahwa KH Ma’ruf Amin sebenarnya memiliki nasab keturunan dari tokoh-tokoh besar di Indonesia maupun di tanah Arab. Biografi ini sengaja jarang diungkapkan, bahkan terkesan disembunyikan.

Sosok yang dikenal sebagai ulama sekaligus politisi itu lahir di Tangerang, Banten, pada 11 Maret 1943. Pernah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang Jawa Timur. Kemudian kuliah di Universitas Ibnu Chaldun, Jakarta.

  1. Ma’ruf Amin adalah cicit dari Syeikh Nawawi Albantani, Sang Mahaguru para ulama besar tanah air, yang fatwanya menjadi rujukan kaum muslim sedunia hingga dewasa ini. Kitab-kitab karangannya dipakai di pesantren dari Timur Tengah, Afrika hingga Nusantra, dan satu-satunya ulama Nusantara yang pernah mengharumkan bangsa karena menjadi Imam Besar Masjidil Haram. Karena kemasyhurannya, Syeikh Nawawi mendapat gelar: Imam Nawawi Tsani, Sayyid Ulama Al-Hijaz, Al-Imam Al-Muhaqqiq wal Fahhamah Am-Mudaqqiq, A’yan Ulama Al-Qarn Al-Ram Asyar lil Hijrah, Imam Ulama’ Al-Haramain.

Murid Syeikh Nawawi banyak yang menjadi ulama kenamaan dan tokoh-tokoh nasional Islam Indonesia, diantaranya adalah: Syekh Kholil Bangkalan, Madura, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Asy’ari dari Bawean, KH. Tubagus Muhammad Asnawi dari Caringin Labuan, Pandeglang Banten, KH. Tubagus Bakri dari Sempur-Purwakarta, KH. Abdul Karim dari Banten.

KH Ma’ruf Amin merupakan keturunan yang ke lima belas dari kesultanan Maulana Syarif Hidayatullah atau dikenal dengan Sunan Gunung Jati, keturunan dari Putra Maulana Hasanuddin, Sultan Banten I, dan nasabnya bersambung ke Imam Ja’far Assidiq-Imam Muhammad AlBaqir-Imam Ali Zainal Abidin-Sayyidina Husain-Sayyidah Fatimah Al-Zahra Bintu Rosulullah SAW.

Semoga beliau dianugerahi kekuatan dalam mengemban amanah, senantiasa istiqomah, mampu membawa kemajuan dan kejayaan bangsa dan negara, dalam lindungan dan keridloan Allah SWT. Aamiinnn..!

Oleh: Tri Handoyo