Infrastruktur Sang Raja

Infrastruktur Sang Raja

Suatu hari, di dalam tidur nyenyaknya, Sang Raja bermimpi sedang berdiri di tepi sungai Nil. Sungai yang besar itu mendadak mengering. Airnya meresap cepat ke dalam dasar sungai, sehingga ikan-ikan berlompatan bersembunyi dalam lubang-lubang. Lalu keluarlah dari sungai kering itu tujuh sapi yang gemuk dan keluar pula tujuh sapi yang kurus. Sapi-sapi yang kurus itu kemudian dengan ganasnya menyerang sapi-sapi yang gemuk. Pemandangan yang mengerikan membuat Sang Raja tak mampu berkedip. Setelah itu, di tepi sungail muncul tujuh tangkai hijau dan penuh dengan bulir-bulir gandum dan tujuh tangkai itu lalu tenggelam dalam tanah. Dan muncullah di tanah yang sama itu tujuh tangkai yang kering dan menghitam.

Raja bangun dari tidurnya dengan diselimuti rasa gelisah yang hebat. Ia segera mengumpulkan para penasehat dan para ahli ramal istana. Ia menceritakan mimpinya kepada mereka dan meminta mereka untuk mengartikannya. Seorang pemimpin peramal mengatakan  bahwa mimpi itu sangat aneh dan ia tidak sanggup mengartikannya. Mereka semua yang hadir juga berpendapat sama.

Akhirnya, seorang petugas pembawa minum raja ingat bahwa ada seorang yang bernama Yusuf yang pernah menafsirkan mimpinya dan itu terbukti tepat. Ia pun menceritakan apa yang dialaminya ketika berada di dalam penjara bersama Yusuf. Sampailah akhirnya raja memerintah agar Nabi Yusuf dikeluarkan dari penjara dan dihadirkan ke hadapannya.

Singkat cerita, Nabi Yusuf pun menjelaskan arti mimpi Sang Raja itu, bahwa negeri mesir akan mengalami tujuh tahun masa subur, di mana saat itu tanaman-tamanan akan tumbuh segar, dan hendaklah orang-orang mesir tidak melampui batas dalam memanfaatkan musim subur ini karena akan disusul dengan tujuh tahun paceklik. Bencana kelaparan hebat mengancam. Setelah menjelaskan tentang mimpi sang raja, Nabi Yusuf melanjutkan dengan pembicaraan tentang keadaan suatu tahun yang tidak ada dalam mimpi raja. Yaitu tahun yang penuh kebahagiaan. Tahun dimana Mesir mendapatkan karunia dan banyak tanaman-tanaman yang tumbuh subur.

Nabi Yusuf memberi masukan kepada raja agar memulai rencana yang tepat untuk mengumpulkan makanan dan penyimpanannya dalam rangka menghadapi ancaman bencana kekeringan itu.

Raja belum punya solusi untuk itu, bahkan ia mengungkapkan bahwa ada kelompok-kelompok oposisi yang berniat makar terhadapnya.

Nabi Yusuf pun berkata, “Kalau begitu jadikanlah saya sebagai pejabat yang akan mengatasi semua ini!” Tentunya Nabi Yusuf mengatakan hal itu bukan demi kepentingan pribadi. Namun ia ingin memikul amanat itu agar bisa menyelamatkan negara dan rakyat dari bencana kelaparan.

Raja yang memang dikenal bijak itu kemudian mengangkat Nabi Yusuf menjadi orang yang bertanggung jawab pada pengelolaan kekayaan mesir dan perekonomiannya.

Nabi Yusuf mengajarkan tentang mitigasi dalam menghadapi paceklik atau resesi ekonomi, dan bagaimana membangun pemerataan ekonomi, serta strategi meruntuhkan oposisi melalui memanfaatkan momentum paceklik.

Pada masa itu ada dua kelompok oposisi. Pertama, oposisi para bangsawan yang tersebar di berbagai tempat, yang hidup mewah sebagai elite sosial dengan hak-hak istimewah tertentu. Mereka menimbun kekayaannya dengan kepemilikan tanah yang sangat luas. Bangunan oposisi mereka ditopang oleh sistem perbudakan yang keji dan tidak berperikemanusian. Kedua, oposisi para pendeta penyembah berhala. Pada saat itu, dewa yang disembah bangsa Mesir adalah dewa Amun. Tempat ibadahnya adalah kuil Amun. Firaun yang memimpin bangsa penyembah Amun itu dijuluki Amunhatep. Firaun berarti penguasa yang tinggal di istana, Amunhatep berarti penyembah amun. Oposisi para pendeta itu sangat kuat mencengkeram karena menentukan dan menguasai isi kepala atau kesadaran rakyat banyak.

Perilaku para pendeta kuil amun yang sombong dan licik sangat menyengsarakan rakyat banyak. Para pendeta itu memiliki budak yang banyak jumlahnya untuk mengolah tanah mereka yang luas demi kemakmuran mereka sendiri. Mereka juga menikmati privilege sebagai pendeta yang menumpuk kekayaan dari harta “sesembahan”. Berbagai jenis sesembahan, seperti emas, perak, hewan ternak, sebagai upeti secara berkala dari para bangsawan hingga rakyat jelata dengan dalih memajukan kuil, demi mendapatkan “keridhaan” dari dewa Amun. Bahkan sejumlah perwira militer kerajaan, yang tergoda dengan harta, lebih loyal kepada pimpinan kuil Amun ketimbang kepada raja yang menjadi pimpinan mereka.

Sebetulnya pihak kerajaan sudah sangat geram dan tidak sabar lagi untuk mengepung dan menangkap pimpinan kuil Amun. Akan tetapi Nabi Yusuf mencegahnya, dan meminta agar sang raja mau bersabar hingga tibanya masa paceklik.

Ketika berlangsung tujuh tahun masa subur, sejumlah kebijakan dibuat oleh Nabi Yusuf, seperti memimpin sendiri jalannya kebijakan ekonomi, politik hingga operasi intelijen untuk mengamankan terealisasinya kebijakan tersebut.

Nabi Yusuf menyampaikan kepada rakyat untuk mempersiapkan diri menyambut tujuh tahun masa subur itu dengan segera berocok tanam. Nabi Yusuf bahkan turun langsung di tengah rakyat untuk membimbing mereka agar bercocok tanam dengan benar, bahkan mengizinkan rakyat untuk memanfaatkan tanah kosong milik kerajaan untuk mereka tanami.

Pihak kerajaan pun aktif mendukung pembangunan, misalnya membangun bendungan, irigasi, untuk mengalirkan air dari sungai Nil ke sawah-sawah yang ditanami gandum. Pembangunan jalan dan jembatan untuk kelancaran membawa hasil panen ke lumbung pusat pemerintahan. Nabi Yusuf sendiri yang merancang bentuk, ukuran dan susunan dari bangunan lumbung itu, agar gandum yang disimpan bisa awet selama tujuh tahun.

Pihak oposisi sempat menertawakan dan mengejek langkah-langkah yang ditempuh oleh kerajaan. Mereka menganggap semua infrastruktur itu hanya pemborosan yang sia-sia. Mereka juga memprediksi bahwa kerajaan tidak lama lagi akan terjun bebas menuju kebangkrutan.

Nabi Yusuf mengeluarkan kebijakan, bahwa kerajaan akan membeli sebagian hasil panen gandum dari rakyat. Gandum yang dibeli oleh kerajaan harus dengan tangkainya, agar tidak membusuk ketika disimpan selama tujuh tahun. Rakyat yang menjual gandum kepada kerajaan akan dicatat dan di kemudian hari dapat membelinya kembali di masa paceklik dengan harga normal.

Sejumlah bangsawan Mesir dan pimpinan kuil Amun ada yang membangun lumbung sendiri untuk menandingi nabi Yusuf. Namun, gandum yang mereka simpan lumbung tidak dengan tangkainya sehingga akhirnya cepat membusuk.

Suatu malam, selesai makanan dihidangkan oleh pegawai istana, raja sontak berdiri sambil memegang perutnya yang terasa perih.

“Rasa lapar yang menyerang paduka raja di tengah malam seperti ini adalah isyarat dari langit, bahwa mulai malam ini masa paceklik akan segera dimulai selama tujuh tahun ke depan,” demikian penjelasan nabi Yusuf kepada raja. Bencana kekeringan memang sudah pasti tidak bisa dihindari, tapi dengan antisipasi yang matang maka bencana itu akan bisa dilalui dengan baik.

Ketika memasuki tujuh tahun masa paceklik, hanya tujuh lumbung yang dibangun oleh Nabi Yusuf untuk menyimpan gandum yang tidak membusuk. Gandum yang ditimbun oleh para bangsawan dan kuil Amun telah membusuk sebelum memasuki masa paceklik.

Nabi Yusuf lalu mengeluarkan sejumlah paket kebijakannya. Pertama, setiap budak tak dapat mengambil sendiri jatah gandum. Para majikan harus membeli gandum untuk menanggung hidup para budaknya. Kedua, budak yang sudah merdeka akan dianggap sebagai rakyat miskin, sehingga kerajaan akan memberikan jatah gandum gratis. Ketiga, mereka yang hanya memiliki hewan ternak dan kehabisan uang dapat menukar gandum dengan hewan ternaknya. Keempat, para bangsawan dan orang kaya yang telah membayar pajak dapat membeli gandum dengan harga normal. Namun, bagi mereka yang tak mau membayar pajak, termasuk kuil Amun, harus membeli gandum dengan harga tujuh kali lipat dari harga normal bahkan bisa lebih.

Dengan kebijakan seperti itu, dampak pada pemerataan kesejahteraan langsung terlihat jelas. Kaum bangsawan yang merasa keberatan menghidupi budak-budaknya kemudian memilih memerdekakan mereka.

Akhirnya, oposisi kuil Amun itu runtuh. Ribuan pendeta dan pekerja di kuil Amun harus diberi makan selama tujuh tahun pada masa paceklik, sehingga seluruh cadangan emas dan perak yang dimiliki oleh kuil harus digelontorkan untuk membeli gandum di lumbung milik kerajaan. Demikian juga kekayaan kaum bangsawan yang kemudian berpindah untuk mensejahterakan para budak yang dimerdekakan.

Masa paceklik itu membuat mereka akhirnya sadar. Firaun Amunhatep kemudian bersedia mengikuti ajaran nabi Yusuf untuk menyembah Tuhan yang satu, dan menggantikan julukannya dari Amunhatep (penyembah berhala Amun) menjadi Firaun Aknatun, artinya raja penyembah Tuhan yang satu, yaitu Tuhannya nabi Ibrahim atau Abraham.

Oleh: Tri Handoyo