Yang Pacaran Kamu Tapi Yang Dinikahin Sahabatmu? Nyesek Kan

Rancah.com – Hai-Hai apa kabar kalian hari ini? Alhamdulillah ya kalo kabarnya baik hehehe. Nah author mau ngasih satu cerita pengalaman pribadi lagi nih lebih tepatnya si pengalaman temennya author. Maaf kalo ga nyambung, Selamat membacaaa ❤

1 Tahun lalu saya ber pacaran dengan seorang laki-laki, dia yang sudah saya temani dari Nol hingga mempunyai pekerjaan dan benefit yang lumayan perbulannya, benar-benar terasa lelah nya mendaki berdua waktu menemani dia tapi lebih berkesan seperti itu karena lebih bisa merasakan susahnya terlebih dahulu sebelum merasakan senangnya. Dari mulai membantu nya menulis lamaran pekerjaan, menemani dia mencari pekerjaan sampai meminjamkan kendaraan untuk dia tes di salah satu perusahaan. Yaps dia bukan terlahir dari keluarga yang berkecukupan karena dia juga anak pertama dan seorang laki-laki yang sudah pasti akan menjadi tulang punggung untuk keluarga dan adik-adiknya. Setiap bertemu pun saya gak pernah minta ini itu karena mencoba untuk mengerti kondisinya saat itu, makan dan minum pun kita bayar setengah – setengah biar tidak memberatkan dia ataupun saya. Dan gak tau kenapa itu salah satu moment yang paling saya ingat, lucunya saat itu.

Sampai pada saatnya dia mendapatkan pekerjaan yang benefitnya bisa di bilang lumayan besar. Iya di lingkungan kami rata – rata setiap orang nya bekerja sebagai buruh pabrik. Dia bekerja di salah satu perusahaan otomotif di mulai dari situ hubungan kami mulai merenggang, dia dengan kesibukannya dan saya dengan kesibukan saya sendiri. Dia laki-laki yang gak pernah lupa sama janji-janjinya, setelah kerja semua janji – janji yang pernah di katakannya mulai di wujudkan. Bahagianya kala itu dan dia mencoba untuk membahagiakan saya dengan memberi uang setiap bulannya saya tidak pernah mau menerimanya karena saya sadar dengan posisi saya, hanya pacar bukan istri yang wajib di nafkahi karena tanggungan dia pun banyak untuk keluarganya.

Semua berubah di saat hubungan kami menginjak 4 tahun kita bertengkar hebat hari itu karena masalah yang cukup rumit, egois yang memenangkan pertengkaran kami sampai lost contact beberapa hari dan di situ orang ke tiga mulai masuk dan merusaknya perlahan. Dia sahabat perempuanku mencoba untuk memberi saran-saran dan nasihat di kala saya dan dia sedang bertengkar karena dia adalah sahabat saya, tak pernah berfikir kalau dia yg akan menjadi boomerang untuk hubungan saya dan dia. Tak saya ketahui ternyata dia mulai chattingan dengan pacar saya, bermula dari memberi saran dan masukan hingga berlanjut saling curhat satu sama lain. Sampai pada saat itu aku melihat semua history chat dari sahabatku di handphone pacarku. Benar benar tak di sangka ternyata sangat bermuka dua dia memberikan perhatian, bahkan sampai pernah mengajak untuk bertemu untuk sekedar makan dan minum.

Sangat tak di sangka juga pacar sayapun merespon entah maksudnya apa ternyata mereka memang pernah bertemu. Bukan, bukan pernah bertemu namun sering bertemu karena sahabat saya meminta pacar saya untuk mendengarkan curhatnya secara langsung. Waktu untuk sahabat saya ada mengapa waktu untuk saya walaupun 10 menit tidak pernah bisa? Saya mulai curiga dari situ. Oke baik saya mulai mengikuti permainannya. Bersikap biasa saja dan ber pura-pura tidak ada apah apah itu tentu sangat menyakitkan, hingga pada puncaknya saya muak dengan semuanya saya berencana untuk menemui dan membuat janji ber 3 dengan pacar dan sahabat saya. Di taman itu menjadi saksi betapa sakitnya penghianatan yang sudah saya terima dari mereka ber 2 ternyata mereka jujur sudah menjalin hubungan selama 2 bulan. Kemana saya ? Ya, saya tau namun saya berpura-pura tidak tau untuk mendapatkan jawaban ini. Dan ternyata memang benar mereka dekat lebih dari sekedar teman curhat. Dan saya mencoba untuk mengikhlaskan walaupun berat. Sakit memang tapi allah punya rencana lain dan jodoh terbaik untuk saya.

September 2019 saya mendapatkan undangan dari mereka. Berat rasanya untuk bertemu mereka karena rasa sakit hati itu masih terasa. Betapa sakitnya perjuangan menemani dai Nol namun di hianati dengan pacar dan sahabat sendiri yang menikmati semuanya. Malam itu saya sempat menjadi bahan candaan teman-teman saya dengan embel-embel “yang sabar ya, cieee ditinggal nikah, ayo cepet moveon kalo ga sama gua ajah nikahnya” saya pun tau mereka mencoba menghibur saya agar tidak larut dalam kesedihan.

Do’aku untuk mereka semoga selalu bahagia, kini saya sudah sangat ikhlas melepasnya. Terimakasih luka berkatmu menjadikanku dewasa.