Ini Dia Makna Hedonisme Sebenarnya Kata Epicurus

pinterest.com

Seorang filsuf Helenistik pada abad 300 SM yang berasal dari Atena, dikenal sebagai tokoh Hedonisme. Adalah ajaran sebuah etika yang menjadikan kenikmatan sebagai kebaikan tertinggi. Menurut Epicurus, seorang manusia telah mencapai kebaikan (kita sebut saja kebahagiaan) apabila telah menikmati hidup ini. Namun, kenikmatan itu harus dipertimbangkan dengan perasaan bahwa tiap  tiap sesuatu yang menyenangkan itu pastilah ada efek sampingnya. Dengan itu, kita harus mempertimbangkan suatu hal yang sekiranya akan menimbulkan efek kenikmatan yang berkepanjangan.

Adapun sekelompok manusia yang mengikuti aliran paham Epicurus dengan sebutan kaum Epicurean. Dilansir dari buku Magnis Suseno (1997) yang berjudul Tiga Belas Model Pendekatan Etika, bahwa bagi kaum Epicurean tujuan hidupnya ialah meraih kesenangan atau kenikmatan atauu yang biasa disebut dengan ajaran Hedonisme. Namun yang dimaksud bukanlah kenikmatan kaum gembul yang menikmati segalanya begitu saja. Mungkin hal semacam itu merupakan pemikiran seseorang yang belum memahami ajaran mereka. Kenikmatan yang dimaksud disini ialah  dimana seseorang tidak merasakan sakit dalam tubuh serta tidak resah dalam jiwa, sebab kenikmatan ini bukan hanya sekedar hiburan dengan pesta minuman atau makanan terus menerus dan juga bukan dengan kemewahan yang diperoleh. Melainkan hanyalah tentang pemikiran yang mencari akar segala keinginan dan dorongan dengan menghindari segala gagasan aneh yang menggoyangkan jiwa.

Epicurus juga menyarakan kita agar mampu menahan hal yang buat kita senang namun hanya dalam kurun waktu yang pendek. Begitu sebaliknya, baiknya kita juga menahan sedikit rasa sakit demi keuntungn atau kenikmatan yang lebih baik dalam jangka waktu yang panjang.

Sebagaimana perkataannya, “Kesenangan memang merupakan sesuatu yang baik, tapi tidak tiap kesenangan hendaknya kita usahakan. Begitupun Sebaliknya, perasaan sakit memang merupakan hal yang buruk akan tetapi hal itu tidak berarti bahwa perasaan sakit harus selalu kita hindari.”

Begitulah pendapat Epicurus mengenai perasaan manusia yang tidak jarang kita salah artikan hingga salah ambil tindakan.

Manusia bukanlah budak dari segala Hasrat yang ada. Kita memiliki kemampuan untuk menahan untuk tidak melakukan hal yang tidak berguna. Sebab, kita sebagai manusia merupakan makhluk paling baik yang diciptakan Tuhan dengan akal budi, ialah jembatan antara rasio manusia berdasarkan realitas kehidupan. Maka, menjadi yang paling bijak ialah menjadi manusia baik yang menggunakan akal budinya. Menjadi seorang yang tidak hanya mengejar suatu kesenangan namun juga ketenangan jiwanya.