Tren Fast Fashion Dalam Industri Pakaian Indonesia

Industri Fast fashion. Sumber:Pixabay.com

rancah.com – Di era modern ini, kebutuhan akan fashion telah menjadi kebutuhan primer bagi setiap golongan masyarakat. Fashion telah mengalami pergeseran makna seiring berkembangnya peradaban manusia. Awalnya pada abad ke-20 fashion berhubungan erat dengan peristiwa sosial-politik namun sekarang fashion telah berkembang dalam segi sosial maupun kultural menjadi sebuah gaya hidup. Akibatnya terjadi peningkatan yang signifikan terhadap industri tekstil khususnya pada produk pakaian. Bahkan hingga saat ini, industri tekstil merupakan 10 besar industri yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dunia.

Dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap pakaian dan gaya hidup, maka para pelaku industri mengusahakan agar memangkas dimensi ruang dan waktu agar produk pakaian yang dihasilkan cepat, murah, dan efektif. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan menggunakan perkembangan teknologi dalam proses pengolahan bahan baku hingga proses desain. Tidak cukup hanya disitu, teknologi juga digunakan dalam pemasaran produk sehingga produk dapat dipasarkan ke seluruh belahan dunia dan dalam waktu singkat dapat memenuhi hasrat konsumsi fashion masyarakat.  Cara ini dikenal dengan istilah Fast Fashion

Apa Itu Fast Fashion ?

Fashion sebagai Suatu Gaya Hidup. Sumber:Pixabay.com

Pada dasarnya, fast fashion adalah konsep bisnis industry fashion yang memproduksi pakaian ready to wear dengan konsep pergantian mode yang cepat. Fast Fashion berfokus kepada produksi massal dalam waktu yang relatif cepat dengan tujuan memenuhi kebutuhan pasar. Karakteristik dalam industri ini meliputi proses produksi yang lebih cepat, bahan baku cenderung berkualitas rendah dan tidak tahan lama, dijual dengan harga yang murah, dan model mengikuti trend terbaru dan berganti dalam waktu yang singkat. Contoh konkrit dari industri fast fashion ini adalah penjualan produk pakaian berkonsep “summer” pada musim panas, penjualan produk pakaian menggunakan konsep kartun tertentu yang akan cepat berganti mengikuti perkembangan dunia film.

Di era sekarang ini, konsep fast fashion digunakan oleh brand pakaian besar dan kelas kakap seperti H&M, Zara, dan Topshop. Nilai industri fast fashion pun mencapai angka fantastis sebesar US $35 milliar atau setara dengan 495,1 milliar rupiah. Bagi para pelaku bisnis, angka ini diprediksi akan terus meningkat dari tahun ke tahun dikarenakan pasar nya yang tidak akan pernah mati. Di Indonesia sendiri, nilai ekspor dari kelompok industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia menyentuh angka USD $13,27 milliar pada tahun 2018 dan menunjukkan trend peningkatan dari tahun ke tahun.

Fenomena Fast Fashion mulanya dianggap sebagai suatu model bisnis yang inovatif dengan menajemen ‘Supply Chain’, yaitu jaringan produksi dan distribusi yang efektif dan efisien. Namun kemudian belakangan ini terkuak fakta bahwa bisnis fast fashion dinilai melakukan praktik yang menyimpang dan menerobos serangkaian kode etik. Akibatnya muncul permasalahan dalam bidang lingkungan, ekonomi dan sosial. Muncul juga gerakan ‘SlowFashion’ yang dianggap sebagai suatu solusi alternatif.

Peningkatan Konsumerisme Akibat Tren Fast Fashion

Konsumerisme, Dampak Negatif Fast Fashion. Sumber:Pixabay.com

Dalam kurun waktu yang singkat Fast Fashion berubah menjadi suatu gaya hidup oleh masyarakat. Dengan harganya yang murah dibandingkan produk sejenis lainnya dan tren yang selalu berganti dengan cepat Fast Fashion berhasil meningkatkan konsumerisme ditengah kehidupan masyarakat Indonesia. Dari satu perspektif hal ini tentu dapat dipandang baik secara ekonomi karena perputaran uang yang cepat tentunya akan meningkatkan pendapatan negara. Namun disisi lain tentunya hal ini berdampak buruk bagi masyarakat, masyarakat seolah kehilangan kesadaran untuk dapat membedakan produk mana yang dibututuhkan, apa yang pantas untuk dikenakan, dan yang harus dibeli.

Dampak Lingkungan Tak Terhindarkan

Fast Fashion Kurang Memperhatikan Lingkungan. Sumber:Pixabay.com

Hasil investigasi Greenpeace Internasional pada tahun 2012 mengungkapkan bahwa limbah industri pakaian adalah penyebab utama kerusakan ekologis di sejumlah sumber air utama di Pulau Jawa. Survey senada yang dilakukan oleh McKinsey juga menunjukkan bahwa sampah yang dihasilkan akibat industry ini tidak dapat dipandang sebalah mata pada tahun 2010, terdapat 11 juta ton limbah pakaian di Amerika Serikat dan di Australia terdapat 23 kilogram pakaian per tahun yang berakhir di dalam tempat pembuangan akhir. Survey tersebut masih menunjukkan dampak kecil dari perkembangan industri Fast Fashion terhadap lingkungan belum lagi ditambah setiap tahunnya kita harus berhadapan dengan microfiber 50 Milyar, dan 1.715 jt ton CO/tahun.

Masyarakat di Berbagai Negara Menjadi Korban

Buruh Menjadi Korban Utama Industri Fast Fashion. Sumber :Pixabay.com

Selain sifat konsumerisme dan dampak lingkungan yang perlu menjadi perhatian khusus adalah kasus eksploitasi buruh dibeberapa negara berkembang. FastFashion fokus terhadap penyediaan pakaian dalam jumlah besar dengan biaya produksi yang sekecil mungkin. Akibatnya lebih dari 50% pekerja tidak mendapatkan bayaran yang sesuai dan 34% diantaranya berada di Asia. Selain kesejahteraan para buruh, keselamatan yang seharusnya menjadi perhatian penting dalam industry juga diabaikan. Salah satu kasus terparah yaitu runtuhnya menara Rana Plaza pada tahun 2013 di Bangladesh. Kejadian ini menewaskan 1134 nyawa pekerja dan diduga terjadi akibat kondisi tempat kerja pabrik yang tidak layak.

Penting Memang Memperhatikan Gaya Hidup Sebagai Suatu Identitas Diri, Tetapi Lebih Penting Lagi Mengedepankan Sikap Humanisme dan Hubungan dengan Lingkungan.