4 Alasan Kenapa Kamu Tidak Akan Pernah Menemukan Guling di Kamar Hotel

Sumber: www.hipwee.com

rancah.com – Untuk menjamin kenyamanan tamunya, pihak hotel pasti akan menyediakan bantal yang empuk agar setiap tamu yang berkunjung dapat menikmati fasilitas hotel dengan nyaman. Tapi, banyak yang gak sadar, ternyata selama ini hotel di Indonesia jarang sekali menyediakan guling untuk tamunya? Kira-kira kenapa ya?

Orang Indonesia sudah terbiasa ditemani guling sejak masih balita. Tanpa guling, tidur terasa kurang nyaman. Tak heran jika guling dijadikan semacam teman tidur yang wajib ada di kasur, termasuk ketika sedang menginap di hotel sekalipun karena faktanya guling memang dapat meningkatkan kualitas tidur. Hal lain yang jarang diketahui adalah dengan memeluk guling ternyata bisa melancarkan peredaran darah.

Sedikit akan sejarah guling, guling muncul ketika adanya penjajahan Belanda beberapa ratus tahun lalu. Tentara Belanda yang dikirim ke sini harus tinggal sendiri dan meninggalkan istri serta keluarganya, sedangkan bagaimanapun juga libido mereka harus tetap disalurkan. Sehingga mereka mencari alternatif yang bisa dijadikan ‘gundik’ untuk bisa dipeluk yang bisa menemani tidur. Akhirnya lahirlah guling yang sering disebut juga sebagai ‘Dutch Wife’. Jadi sebenanya, bukan Indonesia saja yang mengenal guling, karena pada dasarnya mulai eksis karena adanya Belanda di Indonesia.

Lalu kenapa sih hotel tidak pernah menyediakan guling? Berikut 4 alasan mengapa demikian, kamu bisa tentukan sendiri mana alasan yang paling logis! Yuk kita bahas.

Kiblat hotel adalah gaya hidup western, dalam gaya hidup western tidak ada yang namanya guling, itulah mengapa pelayanan hotel hanya menyediakan bantal.

Kiblat pembangunan hotel di Indonesia umumnya mengacu pada hotel-hotel yang ada di barat. Dalam service hotel ala barat, tidak dikenal adanya guling. Itulah mengapa hotel di Indonesia pun juga melakukan hal yang sama. Meskipun demikian, masih ada beberapa hotel yang menyediakan guling, namun tidak banyak.

Guling dianggap kotor dan tidak higienis karena dipeluk oleh tamu-tamu sebelumnya.

Berbeda dengan bantal yang cuma mengenai bagian kepala, guling bisa ‘diapa-apakan’ oleh para tamu hotel yang menginap. Selain dipeluk, guling bisa juga dimain-mainkan. Selain itu guling akan lebih sering tersentuh oleh kulit manusia dibandingkan bantal. Nggak heran kalau tamu hotel banyak yang merasa jijik dengan guling, ya meskipun sudah dicuci tetap saja banyak yang beranggapan rasanya tetap tidak higienis.

Orientasi tamu hotel adalah para turis asing, sedangkan turis asing tidak mengenal istilah guling.

Turis asing tentu akan menjadi pelanggan setia hotel setiap akan berkunjung ke negara-negara. Di negara lain jarang ditemui, atau bahkan tidak ditemui sesuatu benda bernama guling. Meskipun ada, bentuk semacam guling dipergunakan sebagai landasan leher atau punggung, bukan ‘dikelonin’ seperti guling. Sehingga para turis pun tidak butuh apa itu guling, dan untuk apa pihak pelayanan hotel repot-repot menyediakannya.

Tamu yang menginap di hotel biasanya membawa pasangan, sehingga guling tidak terlalu bermanfaat lagi.

Ketika mendengar kata hotel, pasti yang terlintas di bayangan kita adalah suatu tempat yang identik sekali bagi pasangan lawan jenis. Paling tidak, bersama teman atau keluarga. Persepsi yang terbangun di hotel adalah tamu yang membawa pasangan. Jarang kan orang datang ke hotel cuma sendirian di kamar? Itulah mengapa pihak pelayanan hotel tidak akan menyediakan guling kalau tidak kita sendiri yang me-request saat melakukan reservasi.

Nah, jangan khawatir buat kalian yang merasa kurang nyaman jika menginap di hotel tanpa ditemani guling, karena di Indonesia sebenarnya masih banyak kok hotel yang menyediakan guling di kamar hotel asalkan me-request terlebih dahulu.