Youtube dan Kegigihan Generasi Selanjutnya

rancah.com – Barangkali anda lupa dengan Rafia Fadila. Seorang anak yang pernah sepanggung dengan Presiden Jokowi saat menghadiri peringatan Hari Anak Nasional di Pekanbaru pada tahun 2017. Nama Rafia Fadila sempet kondang lantaran menjawab “jadi Youtuber, Pak!” ketika Presiden bertanya “cita-citanya pengen jadi apa?”

Dan ternyata Menteri Keuangan kita, Sri Mulyani, pernah ditimpa nasib yang serupa ketika menyambangi SDN 01 Kenari, Jakarta dalam rangka Program Kemenkeu Mengajar pada awal November 2019. Para murid beramai-ramai menolak saat Sri Mulyani bertanya “apakah ada yang mau menjadi Dirjen Pajak?” Dan rata-rata profesi Youtuber-lah yang mereka gandrungi untuk mengisi kolom pertanyaan mengenai cita-cita.

Awalnya saya mengira anak-anak itu mungkin pengen terkenal seperti Atta Halilintar, Ria Ricis, Reza Arap atau sederet nama Youtuber lain yang dianggap legend di dunia per-youtube-an Indonesia. Namun ternyata Bukan. Kekeliruan saya diluruskan oleh Youtuber yang tengah nyambi kuliah di Fakultas Ekonomi, Undip. Dia keponakan saya.

“Terkenal hanyalah bonus, Om. Dan uang adalah tujuan utamanya,” ujar ponakan saya. Yang kini berusia 20.

Dulu orang tua saya sering wanti-wanti agar serius belajar. “Supaya kelak kau jadi pegawai negeri, nak!” ujar beliau. Atau minimal bisa ngantor di perusahaan bonafide. Tapi saya memutuskan untuk punya cita-cita sendiri yaitu ber-wiraswasta. Mencoba sungguh-sungguh mengelola hobi agar bisa menghasilkan uang. Sehingga, mengutip kalimat para motivator kondang, bekerja tidak terasa lagi seperti kerja. Ini prinsip umum yang bergulir di generasi sepantaran saya.

Jadi, bila generasi yang kini tengah anget-anget-nya pun memutuskan untuk membangun mimpi yang berbeda, itu tentu hal yang lumrah belaka. Banyak ladang uang yang dulu belum ada namun kini mulai bermunculan di arena kehidupan kita. Misalnya saja: menjadi pedagang online, importir, blogger, vlogger, selebgram dan salah satunya, Youtuber. Dengan menjadi Youtuber kreatifitas mereka bisa tersalurkan meski hanya didukung oleh perangkat sederhana (tapi ada pula yang memakai perangkat mahal).

Saya pun pernah bermimpi menjadi Youtuber dan itu hanya berlangsung beberapa hari saja. Mimpi saya hancur lebur di tengah jalan lantaran video yang saya unggah dianggap tidak layak dipertontonkan. Saya tidak meratapinya, lantaran konten yang saya produksi memang buruk kualitasnya. Hanya modal mengunduh beberapa video di Youtube lalu menggabungkannya, membuatnya seolah itu video baru belaka. Kirain cuma porno saja yang tidak layak dipertontonkan.

Tapi itu dulu, saat Youtube masih longgar-longgarnya. Saat monetisasi tak perlu melalui sarat-sarat yang super ketat. Sekarang jelas tidak bisa. Youtube punya sederet prasarat untuk monetisasi. Anda harus punya 1000 subscriber dulu bila ingin meraup dollar melalui medsos ini. Ditambah lagi 4000 jam tayang dalam 12 bulan terakhir. Dan jangan ngimpi bila dua poin itu terpenuhi maka jalan anda bisa semulus kulit wajah Sophia Latjuba. Masih banyak sarat-sarat lain yang harus anda cermati.

Sudah tentu prasarat itu menimbulkan keluh-kesah di antara anak-anak muda yang tengah membangun mimpinya. Namun sekilas saya perhatikan, mereka (anak-anak muda) punya energi kengeyelan yang begitu besar untuk tetap berkreasi. Coba saja anda iseng-iseng melakukan survey. Video-video yang beredar di youtube, entah itu tutorial, lagu-lagu cover-an, prank, gosip selebritis dan lain sebagainya, didominasi oleh anak yang masih seusia mahasiswa. Video-video itu disajikan dengan begitu rapi dan teliti. Saya pribadi benar-benar takjub dengan kegigihan mereka.

Kita tahu, jaman sering kali berubah tak tentu arah. Dokter ataupun astronot tidak lagi menjadi trending answer ketika orang bertanya kalau gede mau jadi apa? Tak jarang juga orang-orang yang kini menginjak usia separuh baya merasa aneh dan berceloteh, “cita-cita kok Youtuber.” Itu bisa dimengerti, lantaran di jaman mereka (termasuk saya) Youtube belum se-familiar sekarang. Bahkan internet adalah mahluk asing di telinga. Gelombang informasi yang kini membanjiri layar komputer atau pun gawai membuat para sesepuh limbung. Sehingga mekanisme-mekanisme bisnis baru yang beredar di dunia maya tidak mampu dipahami dengan jeli.

Tentu tidak ada yang aneh dengan cita-cita menjadi Youtuber. Apalagi situs web berbagi video yang didirikan oleh tiga mantan karyawan PayPal ini, memang menjanjikan secara ekonomi. Anda bisa meraup uang 7000 rupiah per 1000 kali tayang dari video yang anda unggah. Bayangkan bila 1 juta kali tayang. Itu belum ditambah dengan klik iklan yang melintas di video milik anda. Lumayan, bukan. Apalagi bila telah memiliki banyak subscriber (pelanggan). Mereka (subscriber) akan mendapat notifikasi setiap kali anda mengunggah video terbaru. Dan tentu saja itu bukan pekerjaan ringan.

Bahkan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) pernah mengeluarkan kebijakan; Youtuber dengan 10,000 subscriber dapat mendaftar melalui jalur prestasi. Pencapaian 10,000 subscriber adalah hasil nyata dari pengelolaan pasar yang ada. Angka itu tidak mungkin diraih hanya dengan ongkang-ongkang kaki. Ada upaya berpikir keras di sana. Bayangkan saja, saban hari sibuk mengulik ide untuk memproduksi konten apik agar pasar terpikat dan loyal. Itu bukan hal yang mudah. Setidaknya bagi saya.

Dan bila ada orang yang menghujat kebijakan tersebut, tolong anda cek saja tahun kelahirannya. Jangan-jangan dia lahir di awal perang dunia ke-2.