Media, Pujian dan Ekspektasi Para Suporter, Hal yang Selalu Menghantui Perjalanan Timnas

Timnas U-22

Perjalanan Timnas Indonesia disegala umur selalu beriringan dengan maraknya pemberitaan di media. Ketika Timnas Indonesia mampu bermain dengan impresif, media pun beramai-ramai menuliskan bahan untuk mereka jual ke publik. Tentunya, dengan segudang pujian yang mereka tujukan bagi permainan tim atau bahkan kepada pemain.

Hal seperti ini, tampaknya mau tak mau harus kita sadari bisa membuat para pemain kita terlena bahkan tertekan. Pemberitaan media yang masif terhadap mereka menjadikan mental mereka berada jauh di awang-awang dan membuat mereka menganggap kecil lawan yang akan dihadapi. Hasilnya tentu saja over confidence yang mematikan diri sendiri. Bagi media, hal itu memang merupakan lahan empuk untuk menarik animo masyarakat pecinta bola nasional yang jumlahnya mencapai ratusan juta jiwa. Dengan memberitakan tentang timnas Indonesia, jumlah pembaca akan meningkat dan dari sisi komersial, mereka akan mendapatkan untung.

Baca Juga :   Juventus Harus Menyerah dari Hellas Verona 2-1 di Laga Tandang Serie A 2019/2020

Timnas Indonesia Jamuan Makan

Sedangkan bagi pemain sendiri, pemberitaan masif tentang mereka akan berdampak buruk. Mereka bisa saja terlena, dan bisa pula merasa tertekan. Mereka terlena akan pujian yang membesar-besarkan, bahkan mengagung-agungkan apa yang mereka raih sehingga ada kesan tidak siap dengan keadaan yang nyata karena telah terbuai dengan pemberitaan yang memancing imajinasi dan angan-angan mereka sehingga mengakibatkan munculnya perasaan yang lebih superior dari lawan yang akan dihadapi. Hal yang paling jelas nampak dan terbukti adalah ketika Piala AFF 2010 lalu, timnas kita berhadapan dengan Malaysia.

Momen Final Sea Games 2019

Pemberitaan yang masif tentang mereka, mendadak melahirkan artis-artis baru dari dunia sepakbola. Sembari menunggu laga final yang akan digelar, mereka mengisi waktunya dengan undangan kesana-kemari, show ke berbagai tempat, hingga fokus dalam menghadapi laga final menjadi berkurang. Dan hasilnya? Kita tahu sendiri, pada laga pertama final AFF 2010 yang digelar di Stadion Bukit Jalil, timnas kita menelan kekalahan 0-3 dari sang tuan rumah. Hal ini terulang kembali di tahun 2017. Sebelum menghadapi (lagi-lagi) Malaysia di semi-final Sea Games Kuala Lumpur, kita sudah dihebohkan dengan pemberitaan tentang Timnas Indonesia U22 dan banyak media yang memberitakan serta memberi pujian pada penggawa tim Merah Putih. Hasilnya? Kembali kita harus menerima kekalahan dari mereka.

Baca Juga :   Ini Daftar Liga Sepakbola Dunia yang Ditunda Karena Corona

Dan terakhir, di gelaran Sea Games Filipina 2019 lalu, media Indonesia pun membumbungkan nama para penggawa merah putih yang tengah berjuang di Manila. Nadeo Argawinata yang tampil baik di gelaran hingga mencapai babak final, begitu diagung-agungkan oleh media dan dipuji setinggi langit oleh para pecinta timnas. Dan kenyataannya, hal tersebut membuat Garuda Muda menampilkan flop performance di partai puncak, hingga akhirnya dibabat habis oleh Vietnam.

Momen Final Sea Games 2019

Entah disadari atau tidak, pemberitaan media turut pula memberi andil dalam perjalanan prestasi Timnas Indonesia. Mereka turut pula memberi warna dalam setiap liku perjalanan Tim kebanggaan masyarakat Indonesia, dan turut pula memberikan pemberitaan mengenai setiap perkembangan yang terjadi pada timnas kepada masyarakat luas. Namun, alangkah baiknya jika kita mengikuti pola pemberitaan yang jamak dilakukan di Eropa. Mereka akan memuji jika permainan timnya bagus, dan tak segan memberikan kritik atau bahkan hujatan jika permainannya dinilai tidak bagus. Sudah waktunya media di Indonesia sadar, pemberitaan dan pujian, tidaklah selalu bagus bagi Timnas Indonesia…

Baca Juga :   Jadwal Lengkap Timnas U-19 Indonesia di Piala Asia U-19 2020