Cerpen : Penyesalan

Rancah.com – Setiap pagi seperti biasa, Sandra berjalan melewati koridor menuju kantin dengan santai. Setiap pagi sebelum bel berbunyi ia selalu berkumpul bersama teman-temannya di kantin, entah itu sarapan, atau sekadar berkumpul membicarakan orang lain. Ketika bel tanda masuk jam pertama berbunyi, saat itulah Sandra dan teman-temannya bergerombol menuju ke kelas.

Mereka berjalan bertepatan dengan kedatangan Guru Sejarah yang kebetulan jam pertama mengajar di kelas mereka.

“Sandra.” Panggil guru itu.

“Iya Bu?” Jawabnya dengan malas, kenapa selalu dia yang kena.

“Ikat pinggang sama dasi kamu mana?” Tanya guru tersebut.

“Di meja Bu.”

“Kenapa tidak dipakai dari rumah?”

“Ya karena ketinggalan di meja Bu, kalo tidak sudah pasti saya pakai dari rumah.” Sandra beralasan, padahal orang-orang juga tau jika Sandra adalah murid yang tidak suka mematuhi aturan.

“Sudah sudah, alasan saja, cepat pakai sana!”

Sandra hormat sambil berkata, “siap Bu.”

Begitulah Sandra, dia bisa dibilang murid nakal yang selalu berlangganan ke ruang BK. Entah itu karena membolos sekolah, terlambat masuk sekolah, membuat keributan di sekolah, tidak mematuhi aturan dan banyak lagi. Tapi di samping itu, nilai nilai Sandra bisa dibilang bagus. Dia selalu berada di peringkat 5 besar di kelasnya.

“Pstt, Putri, pinjem ikat pinggangmu.” Bisik Sandra pada Putri yang duduk tepat di depannya.

“Kalo kamu pinjem aku pakai apa San?” Tanya Putri.

“Pinjemin ga?” Pinta Sandra sekali lagi dengan mata melotot, hal itu membuat Putri takut dan diam-diam melepas ikat pinggangnya kemudian menyerahkan pada Sandra. Jika tidak diberikan, bisa-bisa dia di amuk oleh Sandra.

Ya, selain suka melanggar aturan, Sandra juga pemaksa dan galak pada teman-temannya. Oleh karena itu banyak yang takut kepadanya, bahkan anak laki-laki juga takut dengan Sandra.

Pukul 10:00 bel pertanda istirahat terdengar sampai kelas 11 MIPA, seluruh murid berhamburan keluar kelas setelah guru menutup pelajaran. Sandra bersama lima temannya buru-buru ke kantin sebelum kebahisan tempat duduk. Setelah mendapat kursi, ia kemudian memesan bakso lalu memakannya. Baru satu suapan, ada seseorang memanggilnya.

“Sandra!”

Yang dipanggil pun menoleh sambil menelan baksonya. Setelah mengetahui bahwa yang memanggilnya adalah Anna, muka Sandra menjadi malas.

Anna adalah teman sekelasnya yang suka mengomentari penampilannya yang berantakan. Itu karena Anna adalah anak yang sangat disiplin dan tidak suka pada anak yang melanggar peraturan. Selain itu, Anna juga selalu mendapat peringat satu yang membuat Sandra merasa susah mengalahkannya. Anna juga satu-satunya orang di kelas yang tidak takut dengan Sandra yang galak dan keras.

“Apa?” Jawab Sandra masih dengan muka malasnya.

“Dipanggil Bu Feni di ruang guru.” Jawab Anna.

“Lah tumben gue dipanggil ke ruang guru, biasannya juga ke ruang BK.” Celoteh Sandra membuat temen-temennya tertawa, tetapi Anna tidak. Dia anak yang selalu serius.

“Ayo cepetan!” Anna mengajak lagi karena Sandra masih asik tertawa.

“Baksonya belum habis, lagian ada urusan apa sih?” Tanya Sandra masih heran tiba-tiba dipanggil ke ruang guru.

“Aku juga ngga tau, makanya ayo cepetan, aku juga belum jajan.”

“Ih, yaudah ayo.” Dengan berat hati ia meninggalkan baksonya karena sedang malas berdebat dengan Anna.

***

Sandra berjalan di belakang Anna sambil sibuk memasang dasi yang sebelumnya dia pinjam dari temannya. Bisa gawat jika ia ke ruang guru tidak memakai dasi.

“Assalamualaikum.” Anna memberi salam sambil mengetuk ruang guru, beberapa guru yang ada di dalam menjawab. Kemudian dia masuk ke dalam di susul oleh Sandra.

“Maaf Bu, ada keperluan apa ya Bu Feni memanggil saya dan Sandra.” Tanya Anna dengan sopan, sedangkan Sandra memilih diam di sebelah Anna.

“Jadi begini, Anna, Sandra, saya memanggil kalian karena dalam penilaian semester kemarin nilai kalian merupakan dua yang terbaik. Oleh karena itu, apakah kalian bersedia mewakili sekolah untuk lomba cerdas cermat mapel fisika?” Bu Feni selaku guru fisika menjelaskan.

“Boleh-boleh Bu, kami bersedia.” Jawab Anna dengan antusias, sudah lama ia ingin mengikuti lomba ini. Sedangkan Sandra di sebelahnya menyenggol lengan Anna dengan isyarat wajah yang tidak setuju.

“Bagaimana dengan kamu Sandra, apakah bersedia?” Tanya Bu Feni yang melihat wajah gusar Sandra.

“I-iya Bu, saya bersedia.” Entah apa yang ada di pikiran Sandra sampai ia menyetujui tawaran tersebut.

Bagaimana tidak gusar, selama ini semua nilai Sandra adalah palsu. Peringat kedua yang Sandra dapatkan adalah hasil menyontek teman-temannya saat ujian. Sandra akan mengancam orang orang yang tidak mau memberinya jawaban, kecuali Anna karena memang semua orang tau Anna orang yang pelit terhadap jawaban dan dia memegang teguh nilai kejujuran.

Sepulangnya dari ruang guru, Sandra tidak kembali ke kantin karena sebentar lagi bel masuk berbunyi, selain itu dia juga sudah tidak napsu makan memikirkan bagaimana nasibnya yang akan mewakili sekolah dalam lomba ini. Ia memilih kembali ke kelas.

Seharian itu Sandra habiskan dengan berpikir bagaimana caranya agar dia tidak terlihat memalukan atas kebodohan sendiri. Semalaman ia berpikir sampai tidak bisa tidur, sampai pagi ini dia akhirnya memutuskan untuk meminta tolong kepada Anna.

Meminta tolong kepada rivalnya merupakan hal yang sangat sulit, bagaimana bisa seorang Sandra yang di takuti banyak orang meminta tolong kepada kutu buku seperti Anna. Tapi demi semua ini, dia akan menurunkan egonya.

Istirahat pertama Sandra tidak ke kantin seperti biasannya, ia ke perpustakaan untuk menghampiri Anna. Tidak sulit menemukannya karena memang setiap jam istirahat Anna lebih sering menghabiskan waktunya di perpustakaan.

Tanpa sepatah kata Sandra duduk di depan Anna. Anna yang sadar akan kehadiran seseorang menurunkan bukunya, “ada apa?”

“Ada yang perlu di omongin.” Jawab Sandra.

“Ngomong aja.”

“Bukan disini, ikut gue.” Ajak Sandra diikuti oleh Anna.

Mereka kemudian berhenti di taman yang sepi, “apa yang mau diomongin?” Tanya Anna lagi.

“Anna, tolong bantu gue.” Mohon Sandra dengan muka memelas dan kedua tangan memegang tangan Anna.

“Bantu apa, Kenapa tiba-tiba kamu kaya gini?” Tanya Anna kebingungan dengan sikap Sandra.

Kemudian Sandra menceritakan tentang nilai palsunya tersebut. Sandra terpaksa melakukan hal ini karena jika tidak, ia akan di marahi oleh orang tuanya yang selalu menuntut nilai bagus dari Sandra. Orang tuanya tidak segan melakukan kekerasan jika nilai Sandra jelek.

Sandra menceritakan tentang nilai dan keluarganya sambil menangis. Tidak pernah Sandra menceritakan masalah keluarga kepada teman-teman yang lain bahkan sampai menangis seperti ini. Hanya kepada Anna, karena entah bagimana Sandra merasa bahwa Anna tidak akan menceritakan hal ini kepada orang lain, ia pikir Anna juga orang yang dapat menolongnya.

Melihat Sandra yang menangis, Anna memeluknya. Anna tahu sebenarnya Sandra adalah anak yang baik, ia melakukan hal buruk di sekolah karena ada alasan yang tidak banyak orang tau.

“Iya Sandra, aku bakal bantu kamu buat menangin lomba ini. Kita berjuang bareng ya, buktiin sama orang tua kamu kalau kamu bisa berprestasi atas usaha kamu sendiri.” Kata Anna menenangkan Sandra yang masih menangis.

“Terimakasih Anna.”

Sejak saat itu, Sandra selalu belajar di dampingi oleh Anna. Waktu istirahatnya ia gunakan untuk belajar di perpustakaan, saat ada jam kosong di kelas juga ia akan pergi ke perpustakaan bersama Anna. Pulang sekolah mereka sering berkumpul untuk belajar bersama juga. Mereka semakin dekat dan menjadi sahabat baik, begitupun perilaku Sandra juga ikut membaik. Anna selalu sabar mengajari dan mengingatkan Sandra.

Sampai akhirnya beberapa bulan kemudian, akhirnya hari yang ditunggu telah tiba. Lomba itu diadakan dan mereka berdua berhasil mendapatkan juara, dan membanggakan nama sekolah. Keluarga mereka juga datang dan bangga atas hasil yang di dapatkan keduanya.

Sekarang Sandra sadar bahwa sebagus apapun nilai jika itu bukan atas hasil usaha sendiri, itu semua akan sia-sia. Karena hidup tidak di tentukan oleh tinta di atas kertas.