Sastra Sebagai Media

Secara sederhana, sastra merupakan bagaimana setiap individu melek informasi dan melek pengetahuan, UNESCO menyatakan kecakapan hidup bisa dilihat dari bagaimana setiap individu melek informasi dan melek pengetahuan. 

Sastra tidak terlepas dari Literasi, begitupun sebaliknya Literasi tidak terlepas dari Sastra. Dimana Literasi Sastra dan Budaya, pada zaman Sastra Melayu dahulu Singapure menjadi wadah bagi orang-orang dari India, Arab, Malaysia, Indonesia untuk mempelajari Sastra Melayu dan Islam dan disitu mereka menjadi satu untuk sama-sama belajar untuk Negara dan Bangsanya, dengan begitu, secara historis Sastra Indonesia tidak terlepas juga dengan Sastra Melayu dan Islam.

Pada masa tersebut pula Sastra di kuasai oleh masyarakat di pelosok-pelosok desa, dimana ada seseorang penyair di daerah pegunungan yang minim media ataupun alat komunikasi yang terbatas dengan masyarakat di wilayah dataran rendah, ia mencoba untuk menyalurkan aspirasinya maupun apa yang ia ingin sampaikan ke masyarakat di daerah dataran yang rendah melalui surat menyurat. Sastra telah menjadi Budaya dari dahulu dimana yang di sebabkan adanya kepentingan masyarakat untuk berkomunikasi, inilah yang di sebut dengan Panji, ialah Panji yang menyebarkan ke seluruh masyarakat yang berbentuk Seorang Penyair.

Inilah yang bisa di gunakan oleh masyarakat pelosok-pelosok desa untuk meminimalisir ketimpangan sosial dan ekonomi yang terjadi di tempat tesebut yang kurang perhatian dari pemerintah, dimana dengan Sastra dan Literasi masyarakat bisa menyelsaikan masalah-masalah yang terjadi di pelosok-pelosok dan media untuk mengajak masyarakat satu dengan lainnya untuk merencanakan atau menyelsaikan sesuatu, inilah yang di sebut dengan Sastra Transformatif dimana masyarakat bisa kritis dan creatif.

Pada awal kemerdekaan masyarakat Indonesia yang melek dengan informasi dan pengetahuan hanya 30% sampai sekarang adanya peningkatan yang cukup signifikan, dimana gerakan-gerakan Literasi yang di gagas oleh Bangsa Indonesia ialah kurang lebih 7000 taman baca dengan terkodinir 5000 taman baca  dan sudah bergerak untuk meningkatkan kembali Budaya Sastra dan Literasi ini di pelosok-pelosok desa maupun kota.

Pustaka-pustaka yang ada di Indonesia juga bergerak memberikan donasi buku kepada masyarakat yang kurang melek membaca, dari segi perkembangan digital ini, bahwa 50.000 orang yang mengunduh 1 artikel dari internet.

Pada masa itu juga tokoh-tokoh pahlawan Indonesia ketika ia tidak dapat bertatap muka ataupun berbicara secara langusung tidak jarang tokoh-tokoh tersebut menggunkan Sastra untuk segala kepentingannya, seperti Bapak Revublik Tan Malaka, ketika ia berada di penjara dan di luar negeri ia sering menyampaikan sesuatu melalui Sastra yang di tulisnya, begitupun dengan Pram, Putu Wijaya  seorang tokoh Sastrawan yang setiap buku-bukunya memiliki unsur Sosial-Budaya dan Politik, begitupun dengan tokoh lainnya.

Dan disisi lain pada masa Orba dimana adanya Rezim Otoriter pada masa Soeharto, tidak sedikit karya-karya Sastra yang tidak di edarkan kepada masyarakat, bahkan sampai ada yang di bakar, bahkan smapai sekarang karya-karya Sastra dari beberapa tokoh Bangsa tidak ada (di hilangkan), dengan begitu setelah tumbangnya Rezim Otoriter tersebut Bangsa Indonesia sering mempertanyakan karya-karya Sastra para tokoh-tokoh bangsa dahulu, seperti karya-karya Bapak Proklamator Indonesia yang karya-karyanya itu masih banyak di hilangkan, begitupun dengan Tokoh-tokoh seperti Tan Malaka, Pram itu agar karya-karya Sastranya bisa di baca (tersampaikan) oleh pemerintah saat itu dan masyarakat melalui cara penyelundupan, bahkan ketika Bapak Revublik di penjara tidak sedikit bukunya yang di selundupkan.

Di dalam penyebaran agama Islam pada zaman dahulu juga pun tidak terlepas dari adanya Sastra, dimana jikalau kita lihat penyebaran Islam melalui Kesenian, contohnya Sunan Kalijaga menyebarkan agama Islam kepada masyarakat melalui Perwayangan yang mudah di terima oleh masyarakat itu sendiri.