Modernisasi dan Dampaknya Terhadap Nilai Kemanusiaan

Modernisasi adalah suatu proses transformasi masyarakat dalam segala aspeknya, dalam data empiris menunjukan, bahwa semua negara baru terlibat dalam proses modernisasi, dengan menetapkan rencana-rencana pembangunannya yang menyentuh sektor-sektor ekonomi, politik, sosial, dan pendidikan yang dianggap sebagai aspek-aspek dominan dalam modernisasi.

Memang berkat kemajuan teknologi dan ilmu pengetauhan, maka manusia bangkit membebaskan diri dari tekanan berat dari alam yang menganggunya, akan tetapi secara sistematis mulai dia tergantung pada hasil ciptaanya dan organisasinya sendiri. Dominasi alam sudah dilepaskan, tetapi teknologi dan birokrasi dengan kekuatannya yang dahsyat itu bangkit untuk menguasai manusia yang menjadi tergantug lemah. Manusia tidak lagi merupakan subjek yang mandiri, tetapi mengalami detotalisasi dan bahkan dehumanisasi yang sering dicetuskan oleh para pemikir eksistensialis (Muhammad Tholhah Hasan, 86: 2005). Manusia  yang ideal mempunyai perasaan untuk selalu berguna bagi orang lain dan mampu mengarahkan kepada setiap orang yang bertemu dengannya untuk mengikuti saran yang baik dan meninggalkan yang buruk.

Lebih dari itu, kalangan kaum Muslim Indonesia sendiri pun mengenai pandangan masalah agama dan budaya itu kebanyakan belum jelas benar. Ketidakjelasan itu dengan sendirinya berpengaruh langsung kepada bagaimana penilaian tentang absah atau tidaknya suatu ekspresi kultural yang khas Indonesia, bahkan mungkin khas daerah tertentu Indonesia. Sepertitelah menjadi kesadaran kebanyakan orang Muslim, antara agama dan budaya itu, meskipun tidak dapat dipisahkan namun dapat dibedakan, dan tidaklah dapat dipisahkan. Tetapi juga sebagaimana diinsafi oleh banyak ahli, agama dan budaya itu, meskipun tidak dapat dipisahkan namun dapat dibedakan, dan tidaklah dibenarkan mencampur aduk keduanya. Agama an sich bernilai mutlak, tidak berubah menurut perubahan waktu dan tempat. Tetapi, budaya sekalipun yang berdasarkan agama, dapat berubah dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat. Sementara kebanyakan budaya berdasarkan agama, namun tidak pernah terjadi sebaliknya, yaitu agama berdasarkan budaya. Sekurangnya begitulah menurut keyakinan berdasarkan kebenaran wahyu Tuhan kepada para Nabi dan Rosul. Oleh karena itu agama adalah primer, dan budaya adalah sekunder. Budaya dapat hidup keagamaan, karena itu sub-ordinate terhadap agama, dan tidak pernah sebaliknya. Maka sementara agama adalah absolut, berlaku untuk setiap ruang dan waktu, budaya adalah relatif, terbatasi runag dan waktu (Nurcholish Madjid, 36-37: 2000). Ilmu pengetauhan dan teknologi tidak bisa dipisahkan dengan sumber daya manusia. Hanya manusia yang menguasai ilmu pengetauhan dan teknologi yang mampu membesarkan gelas.

Kita memang harus bangkit, kita memang sedang memasuki proses modernisasi untuk menyempurnakan perubahan. Tetapi, kita juga harus mampu mengukur diri kita sampai mana kita ini.

Perubahan-perubahan yang terjadi dalam dunia ini begitu cepat dan terus-menerus. Hal demikian menuntut kemampuan kita untuk selalu mengikuti jalannya perubahan itu dan dapat memahami persoalannya, agar dapat mengambil sikap yang tepat, beradaptasi selektif terhadap setiap perkembangan, agar kita tidak menjadi konyol ditengah-tengah perubahan. Untuk menghindari kesenjangan yang terjadi karena adanya modernisasi ialah menyadarkan pemuda millennial melalui nilai-nilai moral yang dikemas semenarik mungkin.