Alat Pembayaran Menggunakan Uang Kertas dan Emas

Dunia memandang Emas dan Perak adalah sebuah perhiasan. di zaman Rasulullah Muhammad emas dan perak sebagai alat tukar, bahkan Emas dan Perak tidak ada inflasi. tidak mengenal inflasi di Zaman itu. nilai Emas dan Perak selalu stabil. bisa dikatakan nilai inflasi nya nol. di zaman Rasulullah Muhammad emas dan perak sebagai alat tukar yang utama, setiap transaksi jual beli selalu mengunakan Emas dan Perak. di zaman itu Emas disebut dinar sedangkan Perak disebut dirham, Satu dinar setara dengan 4,25 gram emas, sedangkan satu dirham setara dengan 2,975 gram perak.

Dunia  mengantikan alat tukar emas dan perak dengan uang kertas. semua negara di dunia menyetujuhi alat tukar dengan uang kertas, akan tetapi ada yang aneh dengan uang kertas, uang kertas seribu dan uang kertas seratus ribu, secara pembiayaan, pembuatan uang kertas tersebut sama-sama memiliki nilai pembuatan yang sama, pembuatan uang kertas satu lembar hanya Rp100, kertas yang sama hanya warna yang berbeda tetapi nilai tukarnya berbeda. sedangkan emas dan perak perbedaan berat, nilainya emas lebih besar di banding perak. Emas dan Perak d Zaman Rasulullah Muhammad berupa koin, sudah di tentukan berat dan karat emas tersebut, besaran karat emas sebagai alat tukar adalah 22 karat. 22 karat sudah tidak asing lgi ditelinga kita, saat ini ketentuan-ketentuan emas dan perak hanya cerita masa lalu, sudah sejak lama emas dan perak hanya sebuah perhiasan, bukan sebagai alat tukar yg digunakan di Zaman Rasulullah Muhammad. di Zaman Rasulullah Muhammad transaksi pembelian 1 satu domba/kambing 1 dinar, setelah berabad-abad 1 domba/kambing tetap 1 Dinar, Dinar berbentuk koin dengan kadar emas 22 karat dan berat 4,25 gram, 1 dinar saat ini sekitar Rp 2.917.857, di Zaman Rasulullah Muhammad sampai sekarang 1 dinar nilai tukarnya tetep sama.

Sedangkan uang kertas nilai tukarnya semakin kecil, di tahun 1980 harga beras Rp250/kg sedangkan di tahun 2018 harga beras Rp11,899/kg harga beras naik 47,6 kali lipat. di tahun 1980 dengan uang Rp5000 bisa beli beras 20 kg, sedangkan di tahun 2018 dengan uang Rp5000, untuk beli 1,5kg tidak cukup. semakin lama nilai tukar uang kertas tak ada harganya. sedangkan nilai tukar Emas dan Perak tidak akan pernah turun nilai tukarnya. Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad sudah menyusulkan pengguna mata uang dengan Dinar dan dirham.

Apakah emas dan perak juga di sebut dinar dan dirham bisa berjaya kembali, sebagai alat tukar yang sah seperti halnya uang kertas?