Etika Guru Terhadap Diri Sendiri, Peserta Didik Hingga Masyarakat

1. Etika Guru Terhadap Diri Sendiri

  • Selalu mendekatkan diri kepada Allah dan hanya takut kepada-Nya, hal ini dilakukan baik secara perkataan &perbuatan dimana saja dan kapan saja, tidak mengenal tempat dan waktu.
  • Selalu menghiasi dirinya dengan mengamalkan sunnah-sunnah nabi Muhammad SAW, misalnya berpuasa sunnah, mengerjakan sholat malam, dan lainnya.
  • Menghiasi dirinya dengan perbuatan yang baik serta berakhlak mulia, seperti tawadhu’, wara’, khusyu’, serta menjauhi hal-hal yang bersifat buruk seperti takabbur, ‘ujub, ghibah, dan lainnya.
  • Ilmunya digunakan sebagai bentuk ibadah kepada Allah, caranya yaitu dengan tidak menjadikannya sebagai sarana untuk mendapatkan jabatan, harta, dan popularitas. Apabila dirinya melakukan hal ini berarti ia telah membahayakan dirinya sendiri ke dalam jurang kesesatan.
  • Tidak boleh mencondongkan hatinya kepada urusan duniawi. Ilmunya jangan hanya disibukkan untuk kepentingan dunia dan memanfaatkannya ke perbuatan yang diharamkan.
  • Tidak boleh merasa cukup akan ilmu yang dimilikinya, ia harus terus haus dan merasa butuh akan suatu ilmu dan pengetahuan. Hal ini dilakukan agar untuk menghindarkan dirinya merasa cukup dengan ilmunya yang dimilikinya.
  • Tidak boleh menutup diri dan tidak mau mendengarkan pendapat seseorang yang lainnya. Perbuatan semacam ini berarti ia telah merasa dirinya lah yang paling benar, hal ini sangat tidak disukai dalam pergaulan.

2. Etika Guru Terhadap Peserta Didik

  • Dalam menyampaikan ilmunya, ia harus memiliki niat hanya untuk beribadah kepada Allah semata dan mencari ridhonya. Tidak boleh mengharapkan apa-apa selain untuk tujuan menyebarkan ilmu, mendidik, menghidupkan syariat agama, menghilangkan kebodohan generasi, dan memperoleh pahala dari Allah SWT.
  • Harus menjadi panutan atau uswah hasanah bagi peserta didiknya dengan cara menampilkan dan mengaplikasikan segala etika dan adab yang benar sesuai dengan ajaran syariat serta tidak menentang hukum dan norma.
  • Dalam penyampaian materi ilmunya, harus menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan mudah dimengerti sesuai dengan tingkatan pemahaman peserta didik. Misalnya peserta didik anak-anak jangan banyak menggunakan bahasa ilmiah level tinggi yang mana anak-anak belum belajar tentang itu.
  • Memberikan arahan, motivasi, dan semangat untuk terus menuntut ilmu dan belajar dimana saja dan kapan saja, tetapi juga harus memperhatikan waktu, situasi, dan kondisi.
  • Tidak boleh menonjolkan atau menampakkan perbedaan dalam menyikapi peserta didik antara satu dengan yang lainnya, harus disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan peserta didik, sehingga dengan demikian tidak ada rasa pilih kasih yang menyebabkan adanya kecemburuan sosial dikalangan peserta didik.
  • Memperhatikan siswa dengan penuh rasa tanggung jawab, membangun komunikasi yang menghidupkan suasana sesuai dengan materi pembelajaran, sehingga peserta didik merasa semangat dalam belajar.
  • Mengingatkan dan memberikan reinforcement kepada peserta didik. Apabila ia melanggar maka harus diperingatkan dan dihukum, sebaliknya bila berprestasi maka diberi suatu hadiah atau ucapan yang dapat membangun semangat belajarnya lagi.

3. Etika Guru Terhadap Wali Peserta Didik

  • Guru berusaha menjalin komunikasi dan kerja sama yang efektif dan efisien, hal ini dilakukan agar guru bisa lebih mengenal peserta didik lebih dalam.
  • Guru memberikan informasi kepada wali peserta didik secara jujur, objektif, nyata adanya, dan tidak di rekayasa mengenai keadaan dan perkembangan peserta didik.
  • Guru harus merahasiakan informasi atau hal-hal yang mengenai peserta didik kepada selain wali peserta didik, ditakutkan akan menjadi celaan atau hal yang tidak baik kepada peserta didik.
  • Guru memotivasi wali peserta didik untuk terus memberikan pengaruh baik kepada peserta didik secara IQ, EQ, atau SQ guna untuk kesejahteraan, kemajuan, perkembangan, dan cita-cita peserta didik itu sendiri.
  • Guru tidak boleh mengadakan hubungan pribadi negatif yang memiliki potensi untuk keuntungan pribadi semata, karena hakikat pendidikan pada dasarnya bukan sarana untuk bisnis yang mengutamakan kepentingan sepihak saja.

4. Etika Guru Terhadap Teman Sejawat

  • Dalam bergaul, hendaknya sebagai sesama guru harus memiliki sifat keterbukaan, jujur, tidak ada yang disembunyikan, kecuali bersifat privasi yang tidak ada kaitannya dengan pendidikan. Hal ini dilakukan agar diantara kalangan guru tidak ada kesenjangan sosial antara satu dengan yang lainnya.
  • Diantara sesama guru, hendaknya selalu ada kesediaan dari masing-masing untuk saling memberikan masukan, usulan, saran atau pun nasehat dalam rangka melaksanakan tugas masing-masing. Apabila ha ini dilakukan, maka kualitas keprofesionalan antara satu dengan yang lainnya akan menjadi lebih bagus dan lebih maksimal.
  • Dalam melaksanakan tugasnya, hendaknya guru saling tolong menolong dan membantu guna untuk saling memudahkan dan mengaplikasikan sikap toleransi kepada sesama guru.
  • Tidak boleh  menampakkan atau melakukan perbuatan-perbuatan tidak baik yang dapat menimbulkan perselisihan dan permusuhan diantara sesama guru.
  • Tidak boleh melanggar aturan kode etik yang sudah ditetapkan. Apabila ia melakukan berarti ia telah melanggar kode etik tersebut dan baginya akan mendapatkan hukuman atas pelanggarannya.

5. Etika Guru Terhadap Lingkungan Masyarakat

  • Guru menyesuaikan diri dengan adat istiadat masyarakat, tidak boleh ia merasa benar dengan adat istiadat dan kebiasaannya sendiri. Setelah itu juga seorang guru harus menghormati dan menghargai adat istiadat yang ada pada masyarakat tersebut.
  • Guru menjalin komunikasi dan kerja sama dengan masyarakat secara efektif dan efisien. Hal ini dilakukan agar ranah pendidikan memiliki jaringan yang luas, artinya seorang guru tidak hanya berperan dalam lembaga pendidikan sekolah saja, tetapi ia juga terjun lapangan langsung ke masyarakat, sekaligus sebagai tanda bahwa diantara guru dan masyarakat memiliki komunikasi dan kerja sama yang baik.
  • Guru menjadi partisipan dalam lembaga organisasi kemasyarakatan, ia bukan hanya menjadi penonton   dalam kegiatan masyarakat, tetapi juga ia menjadi pemeran. Sehingga ia membawa banyak manfaat dari dirinya dengan cara menyampaikan ilmu yang dimiliki kepada masyarakat yang lain.