New Mom Wajib Mengenali Baby Blues Syndrom Sebelum Melahirkan Serta Cara Menanganinya!

Rancah.com – Berperan menjadi seorang ibu adalah salah satu impian dari sekian banyak wanita di dunia ini. Tak jarang banyak yang mengikuti beberapa program setelah menikah. Penantian setelah sembilan bulan pun terasa melegakan dan menyenangkan dengan hadirnya seorang bayi bersama tangisnya.

Eits, tapi tunggu dulu. Ternyata memiliki anak itu tidak semudah itu loh, bun. Bahkan dalam dunia psikologi ada yang namanya Baby Blues Syndrome untuk para bunda yang pertama kali memiliki anak. Apa sih itu yang disebut dengan Baby Blues Syndrome?

The Baby Blues adalah depresi ringan yang terjadi pada ibu – ibu dalam masa beberapa jam setelah melahirkan, sampai beberapa hari setelah melahirkan, dan kemudian akan hilang dengan sendirinya jika diberikan pelayanan psikologis yang baik.

Terdapat 2 juta kasus Baby Blues tiap tahunnya di Indonesia.Dengan 70 – 80% ibu yang umumnya merasakan atau mengalami  sungguh tidak ingin melakukan apapun, lelah, mudah marah, menangis, cemas, insomnia, konsentrasi buruk,merasa tidak adanya koneksi dengan bayinya, sehingga harus segera ditangani sebelum terjadi hal – hal tidak baik yang dilakukan kepada bayinya.

Apa sih penyebab Baby Blues yang menyerang pada ibu – ibu yang baru saja memiliki anak?

Hormon yang rollercoaster setelah melahirkan. Pada saat bayi lahir, akan terjadi perubahan kadar hormone pada ibu. Ada yang kadarnya turun dengan cepat, adapula yang turun dengan cepatnya. Selain itu, hormone – hormone pada saat ibu mengandung memiliki perbedaan komposisi dengan hormone setelah melahirkan bayi. Perbedaan hormone – hormone ini ditambah/didorong dengan masa – masa penyesuaian diri sebagai ibu , seperti kurang tidur, ASI yang tidak lancar, dan lainnya.

Banyak ibu yang tidak mempersiapkan diri untuk merasakan kelelahan pada saat melahirkan dan mengurus bayi. Tak jarang pula yang mengalami kurang tidur. Bayi menangis tengah malam, beberapa jam sekali untuk menyusui, yang membuat para ibu harus kelelahan. Saking lelahnya, ibu merasa kesulitan menangani hal kecil dan merasa tidak bisa mengurus bainya dengan baik, hingga ada beberapa ibu yang berinisiatif untuk tidak menambah anak.

Apa yang sebaiknya dilakukan oleh para ibu yang baru pertama kali memiliki anak saat menderita syndrome ini?

Mengeluarkan/menceritakan bebannya kepada orang lain. Bisa menceritakannya kepada psikiater, tenaga medis seperti bidan, dokter, atau yang lainnya, teman dekat/kerabat, dan orang – orang yang dipercayai sebagai tempat curhat.

Dalam beberapa kasus, tenaga medis akan membiarkan ibu tersebut menangis dan meluapkan emosinya di suatu ruangan yang tenang. Tetapi tetap dalam pengawasan yang penuh. Membiarkan ibu tersebut menangis sepuasnya, tanpa menyuruhnya berhenti hingga emosinya mereda. Jika ibu sudah tenang, barulah tenaga medis menanyakan apa yang membuatnya begitu sedih atau pun lelah. Sehingga pada saat inilah dibutuhkan sesi konseling.

Suami berperan penting pada saat istri mengalami syndrome ini. Suami berperan untuk mendukung penuh sang istri, menjadi teman cerita dan berkeluh kesah, memastikan kesehatan sang istri, mengajaknya menghirup udara segar, mengerjakan beberapa pekerjaan rumah, dan menemani istri ke dokter atau psikolog jika perlu.