Buku Diri Adil Priyatama (1)

Prolog

Kisah ini mengenai seorang anak manusia yang bernama Adil Priyatama dan buku yang ditulisnya.

 0

Cinta. Satu kata. Berdaya cipta. Tumpah ruah seluruh bejana. Berhambur berserakan. Berantakan. Dimana-mana, kemana-mana. Tiada yang dapat disalahkan. Untuk apa juga?

Kenyamanan yang hening namun menggelora. Menghembuskan tarian syahdu alam semesta. Hati yang membuncah-buncah. Geletar kerinduan yang mengembara lalu tergelepar jatuh bergulingguling lalu diam mereda berangsur-angsur.

Lalu muncul Sang Hidup dalam berbagai wadah dan bentuk. Saling menyapa satu dan lain, lawan dan kawan, bersama membentuk semesta. Satu generasi lahir dari generasi-generasi membentuk untaian generasi, suatu denyut aliran jantung sejarah, Sang Hidup yang berwadah waktu.

Setiap kemunculan muncul secara bergantian, beriringan, bersulam, jalin-menjalin, membentuk waktu keseluruhan, keseluruhan waktu.

Tiga bingkai waktu dalam kenangan Sang Sekarang, bersambutan tanpa jeda tanpa pemisahan tanpa koma. Menghapus jejak pikiran tentang kerangka waktu dahulu sekarang dan nanti, seolah waktu bisa dibagi-bagi, seolah waktu masuk dalam ruangan-ruangan dalam satu rumah. Begitulah pikiran menangkap Sang Hidup, dalam momen demi momen yang ia rekam dengan penuh ketelitian, cermat pada perhatian yang ditujunya, pada seekor semut yang melintasi kertas ini misalnya.

1

Tahukah kamu bagaimana sebuah buku yang bagus dapat hadir di hadapan kita? Ia merupakan berkah dari cinta yang dikandungnya. Layaknya seorang bayi dalam kandungan, ia membutuhkan waktu dan akumulasi dari cinta dan berbagai bahan penyusunnya, bertumbuh, hingga akhirnya sempurna untuk dilahirkan.

Begitulah sebuah buku yang bagus bisa hadir ke sidang pembaca, ia telah melalui proses yang berat, yang mesti dipikul oleh penulisnya, barulah bisa ia hadir sebagai karya yang sempurna.

Buku Diri Adil Priyatama (1)

(Sumber foto: cftetonvalley.org)

2

Adil mencari cara agar hidupnya yang saat ini terasa tidak bergerak ke mana-mana, dapat lebih bermakna dari hari ke hari. Berbagai aktivitas sudah coba ia lakukan, mulai dari berbisnis, bekerja, menulis, dan berkarya, namun tidak ada yang tampaknya cukup berarti bagi kemajuan hidupnya. Ia sebenarnya menemukan gairah hidup ketika ia membaca dan menulis. Tapi ia belum menemukan apa yang seharusnya dilakukan,agar gairahnya itu mendapatkan tempat yang tepat dalam kerangka kehidupan yang dijalaninya.

Hingga sampai suatu titik dalam hidupnya, di mana muncul ide dalam benak Adil, untuk menulis sebuah buku yang ia sendiri sangat ingin untuk membacanya. Buku tersebut merupakan sesuatu yang bisa ia bagi untuk orang lain, tapi terutama ia sendiri sangat tertarik untuk membaca sampai tuntas, bahkan bisa berulang kali tanpa pernah membuatnya bosan. Kira-kira buku seperti apakah itu?