Aku Benci Lebaran! Ujarnya Sambil Menitihkan Air Mata Luka …

Catatan gambar: Karena ada masa dimana seseorang membenci suatu perayaan besar dimana semua orang bahagia atasnya.

Untuk kali ini, kali ketika bumi di kerumuni oleh corona, maka disaat itulah jutaan rencana para penghuni bumi hampir secara keseluruhan batal total, sekalipun beberapa persen darinya tetap dipaksa untuk berjalan dengan cara lain, namun alhasil? tetap nihil terbaca.

Tak terasa, bulan ramadhan tak lama lagi bersama kita, sekalipun para insan merasa bahwa ramadhan kali ini berbeda dengan ramadhan yang lalu lalang telah berlalu sebelumnya, tapi kita harus apa selain menerima? Bukankah menolak takdir adalah penerimaan yang perlahan membuat kita terluka?

Tatapanku berhenti sejenak ketika perempuan gila itu berjalan dihalaman rumah dengan pakaian anehnya, dengan rok mini plus baju atasan tak berlengan ditambah dengan jilbab mini dengan memperlihatkan poni kudanya yang menambah keunikan dirinya. Berjalan sambil menggendong kantongan berisi sampah, yaa itu menurutku dan menurut orang orang waras, namun baginya? Kantongan itu berisi uang yang baginya sangat berharga dan sayang untuk dibuang.

Karena untuk pertama kalinya dia berjalan bebas seperti ini, maklum selama yang aku kenal dia hanya terkurung dalam rumah dengan kaki yang terikat rantai. Maka Bukan aku, bukan aku namanya jika kubiarkan dia lewat tanpa sepatah pertanyaan dariku yang membiarkan dia berbicara, sekalipun ibu kadang memarahiku dan berkata

“Jangan ajak bicara perempuan gila itu jika kau melihatnya berkeliaran, atau kau akan ketularan”

Bagaimana mungkin? Kegilaannya bukan corona yang dengan mudah menular ibu, ini adalah penyakit yang sebabnya tentu bukan masalah kecil, pernah kubaca di sebuah lembaran buku tebal bahwasanya kegilaan seseorang adalah berakibat dari masalah besar yang tak dapat diterimanya. Memang benar! Mengapa harus gila jika hanya mempersoalkan masalah sepele bukankah tampak aneh?

Langkahku segera menuruni anak tangga kayu yang jika kupercepat langkahku, tentu akan menggerakkan badan rumah yang seolah terjadi pergeseran kulit bumi hingga dengannya ibu akan kembali berteriak

“Innaa, jangan lari kayak anak anak …”

Akhirnya kumulai dengan sapaan manis padanya,

“Haloooo cantik” panggilan itulah yang saya lontarkan kepada si perempuan gila yang malang itu, dan ternyata mendengar suaraku membuatnya tersipu malu dan berhenti berjalan, bahkan mundur malahan dan mendekatiku sambil mengajakku duduk di sebuah kursi kayu milik ayah yang sering digunakannya duduk romantis bersama ibu di sore hari.

Matahari yang baru saja terbit, sedangkan ayah ibu yang sepertinya kembali tidur habis sahur dan sholat shubuh membuatkku berkesimpulan bahwa aku dan dia akan bercakap cakap lama, sekalipun aku hanya membicarakan sesuatu yang mungkin tidak begitu penting.

“Si cantik darimana?” tanyaku kepadanya yang sudah duduk manis didekatku sedangkan tatapannya masih saja liar mencari sampah

“Dari rumah dan sekarang mau cari nafkah untuk si Ambe

Yaa, cari nafkah untuk si Ambe katanya, ambe yang dimaksud adalah kambing kambing yang diikat dihalaman rumahnya yang berada di dekat perkuburan kampung. Para kambing itu tentu bukan miliknya melainkan milik para pemuda kampung yang sengaja diikat disana. Maklum halaman rumah ibu poni tumbuh sumbur rerumputan dan semak semak yang sudah menjadi andalan para kambing kambing.

Dia bernama Ibu poni dan berusia 40 tahunan. Kata ibu, ketika ibu poni berusia dua puluh tahunan, para pemuda kampung menjulukinya sebagai kembang desa. Rambutnya yang panjang terurai, hidung mancung dengan alis tebal, ditambah bibir tipis seolah menyempurnakan kecantikannya. Namun sekarang? Ketika wajah itu telah ditutupi oleh debu, hati yang telah dibungkus oleh luka, dan mata yang sesekali disambut dengan air mata, maka kecantikan ibu poni kini menghilang entah kemana? Hilang sehilang hilangnya, bahkan aku sendiri tak percaya bahwa dia pernah menjadi idaman para pemuda waktu dulu.

“Ibu Poni tidak membuat kue? Tidak lama lagi kita akan akan lebaran loh!” Timpalku padanya sekaligus sebagai bahan pembicaraan yang mungkin dapat dipahaminya dengan baik.

Namun, mendengar pertanyaanku membuat tatapannya berhenti dan seolah mencari sesuatu yang sudah lama dicarinya, tapi apa? Kantong yang digendongnya beberapa waktu yang lalu tiba tiba dibuangnya, kemudian berdiri dari duduknya dan menghentakkan kakinya, dia tampak marah, tapi marah kepada siapa? Aku hanya bertanya, dan aku salah apa?

“Tak ada lebaran kataku, aku sudah bilang tak ada lebaran, yaa tidak ada bodoh” bentaknya begitu besar, bahkan ibuku tak pernah membentakku dengan nada suara setinggi itu. Bukankah sudah terlalu banyak orang yang aku tanya mengenai hidupnya dan tak diantaranya yang marah dan membentakku seperti ini, ingin kutarik poninya namun kusadar dia perempuan yang tidak waras,

“Saya sudah mempersiapkan semuanya, baju lebaran, kue, masakan kesukaannya, tapi malam itu. Sebelum pergi, dia bilang akan kembali dimalam takkbiran itu, dua bulan kemudian? Dia benar kembali, tapi bersama dengan seorang istri. Kukira istri orang, rupanya istri baru yang katanya akan aku anggap sebagai adik, tidak… tidak … esoknya? Aku tidak lebaran, sampai sekarang, aku sudah menghapus lebaran itu dari hidupku, aku benci lebaran, aku benci” Jelasnya panjang lebar sambil menunjuk diriku seolah menjadi biang dari lukanya yang kembali utuh dirasakannya.

kuingin tersenyum namun takut dia marah, tapi aku harus apa? kupalingkan tatapanku kearah sawah yang dari dulu sampai sekarang menjadi pemandangan alami halaman rumah. Tak lama dari itu, tatapanku pun kearahnya yang saat itu telah kembali memungut sampah sampahnya dan memasukkan kekantongan yang sudah kembali dipegangnya.

Yaa, tak ada lebaran karena ada pengkhianatan. Ini bukan hanya berbicara antara pengkhianatan suamimu yang sampai membuatmu enggan untuk berlebaran. Tapi ini tentang pengkhianatan manusia kepada Tuhan, dan balasannya? Tetap ada lebaran, tapi tak semeriah dulu. Mungkin karena Tuhan ingin kita lebih mengintropeksi diri lagi dalam kesunyian dan kesendirian dan menyadari kesalahan dan kelalaian itu, jelaskku panjang lebar dalam hati,

Karena sampah yang dibuangnya telah disapu bersih oleh tangannya yang berkuku hitam itu, seketika dia melambaikan ranting pohon kearahku sambil berbisik

Jangan lebaran, karena diluar banyak pembohong. Mengaku mencintai kemudian melukai. Hahahahahaha

Tawa besarnya membuat Langkahnya pergi, menghilang dari pandangan dan menyisahkan bisikan yang penuh makna, katanya diluar banyak pembohong, banyak yang mengaku mencintai kemudian pada akhirnya melukai. Persis dengan kasus sekarang, kita mengaku mencintai Tuhan, namun faktanya? Kita semakin menjauh dan membuat-Nya menunggu kapan kita datang, bedanya? Manusia yang dikhianati akan tersakiti, namun ketika menusia mengkhianati Tuhan, yang tersakiti bukan Tuhan tapi kembali ke manusia itu.

Barang siapa yang mengerjakan amal yang shalih maka (Pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali kali tidakkah Rabb-mu menganiaya hamba hambanya” (QS. Fushshilat/41: 46).