Rambut Keriting menjadi Pelangi. Kok Bisa Sih?

Rancah.com – Terkadang kepolosan pembicaraan seorang anak yang masih balita bisa menyentuh hati yang sangat dalam. Karena apa yang dikatakan itu benar sehingga kita yang mendengar pun berpikir dan bertanya dalam hati kenpa anak ini bisa berpikir sekritis itu. Kenapa anak ini tidak menghabiskan saja hari-harinya hanya dengan bermain tanpa memikirkan hal lain.

Teringat kembali saat di tempatku berkarya untuk mendidik anak-anak TK. Suatu ketika perayaan hari besar yang mengharuskan kami untuk mengenakan berbagai macam busana tentang budaya. Namun ini bukan perayaan budaya kental Indonesia. Berhubung tempatku mengajar berstandar Internasional jadi kami mengapresiasi dengan merayakan hari besar budaya luar untuk dapat menghargai satu sama lain yang mana mungkin tidak asing lagi bagi orang Indonesia.

Disaat hari perayaan, salah seorang anak didikku pun mengenakan gaun yang sangat cantik. Dia begitu anggun dan terlihat seperti seorang “princess” dengan rambut keritingnya yang sangat indah sebagai mahkotanya dan sempurna dalam melengkapi busananya dihari itu. Aku yang sedang berdiri di depan kelas menunggu kedatangan anak didikku pun terpesona dan memberi dia pujian dengan apa yang kulihat sebenarnya. Nama putri kecil itu adalah Gabriella. Nama yang begitu indah bukan sesuai dengan paras wajahnya.

“Selamat pagi Gabriella, kamu terlihat begitu cantik hari ini,” sambutku.

Dia merespon pujianku dengan senyuman dan berkata, “Terimakasih Miss Susi yang cantik.”

Bel pun berbunyi, yang menandakan saaatnya untuk masuk ke ruangan kelas masing-masing untuk memulai aktivitas belajar. Kami berkumpul dengan suasana berbeda hari itu karena busana yang kami pakai. Tidak seperti biasanya  memakai seragam. Masih dengan kejadian yang sama, aku memuji anak-anak ku yang terlihat berbeda di hari perayaan itu. Mereka begitu ceria dan memuji satu sama lain. Aku pun memberi mereka waktu untuk saling memberi pendapat diantara mereka tentang busana yang sedang mereka kenakan.

Baca Juga :   Marsinah, Pahlawan Buruh dan Sistem Qutsourcing

Tiba-tiba suasana kelas berubah hening. Dimana salah seorang anak didikku yang bernama Gabriella tadi berkata, “Miss, aku cantik tapi terkadang aku tidak suka dengan rambutku. Aku pengen seperti Evelyn rambutnya lurus.” Evelyn adalah nama anak didik yang lain dan dia teman baik dari Gabriella.

Aku sangat terkejut dengan ucapan anak itu. Karena tidak biasanya berkomentar seperti itu. Aku terdiam dan berpikir sejenak kenapa anak itu tiba-tiba berpikir se-negatif itu. Padahal rambutku juga keriting, yang mana dia tidak perlu merasa minder karena bukan hanya dia yang berambut keriting.

“Kenapa Gabriella tidak suka dengan rambutnya? Rambut Gabriella kan cantik sama seperti rambut Miss,” ucapku.

“Iya karna rambutku keriting Miss, suka mekar kesana-kemari,” sahut Gabriella.

Aku pun tersenyum kepada Gabriella dan begitu lantang mengatakan, “Kamu sangat cantik dengan rambut keriting yang memahkotaimu dan Miss sangat suka itu.”

Kemudian dia tersenyum tapi tidak lepas, seakan-akan ada sesuatu yang masih tersimpan di dalam pikirannya. Aku pun mengajak mereka untuk duduk rapi kembali dan pandangan tertuju kepadaku serta telinga yang harus mendengar suara ku saja. Aku mulai melanjutkan penjelasan ku tentang rambut keriting tadi untuk membuat perasaan Gabriella senang dengan rambut yang dimilikinya. Mencoba menyerdahanakan sesuatu adalah tugasku agar anak didikku bisa mengerti dengan apa yang saya jelaskan dengan mudah.

Baca Juga :   Kemunculan Monarki Absolut di Prancis

Aku awali penjelasan ku dengan memberi pertanyaan kepada mereka.

“Pernahkah kalian melihat pelangi?”, tanyaku.

Mereka pun menjawab dengan serentak, “Pernah Miss.”

Anak didik lain juga ada yang menjawab, “ Aku juga pernah lihat Miss. Aku suka karena pelangi itu warna-warni Miss.”

“Pelangi itu warnanya apa saja?”, tanyaku kembali.

“Merah, kuning, biru dan hijau,” jawab mereka.

Aku tersenyum dan kagum mendengar jawaban mereka.

“Pelangi itu cantik dan memiliki banyak warna. Coba hanya warna merah saja atau hanya warna kuning saja, menarik tidak dilihat?”, tanyaku kembali sambil menggambarkan sebuah pelangi dipapan tulis.

“Kalau hanya warna merah saja cantik tapi tidak menarik Miss,” sahut beberapa anak didik lain.

Aku pun melanjutkan kembali penjelasanku, “Nah, sama dengan rambut keriting tadi. Tuhan menciptakan pelangi dengan berbagai jenis warna. Ada yang merah, kuning, hijau, biru dan ungu. Begitu juga dengan kita manusia. Tuhan menciptakan rambut, kulit, dan bentuk tubuh dengan berbeda-beda. Ada rambut keriting dan lurus, ada yang berkulit hitam dan putih, ada yang berbadan gemuk, kurus, tinggi dan pendek. Tetapi semuanya indah dan menarik karena perbedaan tadi. Coba kalau semua rambutnya hanya lurus, semua gemuk, semua pendek. Tentu tidak menarik dan sangat membosankan. Sama seperti permainan yang kita mainkan setiap hari pasti berbeda-beda. Kalau kita hanya memainkan satu permainan saja tentu itu membosankan bukan. Semua ciptaan Tuhan itu indah, cantik dan tampan sama seperti kalian.”

Baca Juga :   Kisah Hitam Dibalik Sekarang

“Iya Miss,” sahut mereka sambil tersenyum dan melihat satu sama lain.

Kebahagiaan yang sempurna jika kita bisa menerima bagaimana diri kita sendiri. Apapun dan bagaimanapun keadaannya, bersyukurlah. Karena Tuhan mempunyai alasan kenapa kita diciptakan berbeda satu sama lain sama seperti pelangi tadi.

Kami pun melanjutkan aktivitas kami kembali dan waktu belajar pun usai. Sebelum orangtua mereka datang menjemput, aku mengajak mereka untuk berfoto bersama. Karena adanya perayaan hari besar tadi jadi sekolah menyediakan tempat untuk bisa berfoto. Dimana di foto itu ada berbagai jenis bentuk rambut, wajah, dan warna kulit. Selesai berfoto, aku segera menunjukkan hasil foto itu kepada Gabriella.

“Cantik ga fotonya?”, tanyaku.

“Cantik Miss, kita semua ceria difotonya,” jawab Gabriella dan tersenyum kembali.

“Iya, kita semua cantik dan tampan di foto ini. Karena ada yang berambut keriting dan lurus membuat hasil fotonya kelihatan semakin menarik. Jadi Gabriella tidak boleh lagi mengatakan tidak suka dengan rambutnya,” tuturku dengan lembut untuk meyakinkan kepercayaan diri Gabriella.

Sejak kejadian itu, Gabriella pun tidak pernah lagi mengeluh dengan ketidaksukaannya dengan rambutnya. Karena berbeda itu indah dan rambut keritingnya juga indah seperti pelangi itu.