Tak Terlihat Namun Ada

Rancah.com – Ada Sosok yang selalu ku kagumi dalam hidupku, mungkin banyak orang yang tidak tahu, namun banyak juga lohhh yang tahu. Sosok yang selalu menolong aku, menemani aku. Bukannya tidak bingung ketika mendengarnya, namun itulah kenyataannya yang ada. Hidupku bukan seperti kehidupan anak-anak kebanyakan, mereka hidup dalam segala kemewahan sedangkan aku untuk makan sehari-hari saja sangat sulit. Orangtuaku hanya petani biasa, tidak penghasilan perbulan yang dapat aku nikmati bersama dengan adik-adikku.

Sulit menemukan jati diri dalam kehidupan yang terbilang miskin ini. Namun sukacita dalam hatiku harus terus aku bangkitkan. Bukan sebagai orang yang selalu sanggup tersenyum, namun semua perjalannan kehidupan di bumi ini harus aku lalui dengan tulus dan ikhlas. Sembilan belas tahun hidup bersama orangtua yang terbilang kurang mampu, selain itu, aku harus menghadapi setiap pandangan mata orang-orang yang tak senang melihat keluargaku yang miskin. Namun, aku harus lewati hari-hariku yang sunyi sepi itu hanya dengan nyanyian kecil setiap harinya, demi bisa menutupi telingaku dari jeritan dan tyeriakan orang-orang yang selalu mengejekku.

Setelah aku berusia 14 tahun, tepat pada waktu aku masih duduk dibangku kelas VII SMP aku menemukan sosok sahabat yang begitu akrab, namanya Royn. Sebenarnya kami sudah berteman sejak kecil, namun dia tidak ikut pindah bersama dengan keluargakku dulu ke Sumatera. Saat aku duduk dibangku SMP ternyata ayahnya dipindah tugaskan ke daerah Sumatera, sehingga aku dan Royn dapat bertemu kembali dan bermain kembali, kehidupan dan pertemananku mulai berubah menyenangkan sejak Royn ada bersama-sama dengan aku. Kami bersekolah bersama dan tinggal di daerah yang berbeda di Sumatera meski kami satu sekolah.

Aku dan Royn memang sahabat yang tidak bisa dipisahkan sejak kecil. Kami selalu pergi bersama kemana saja. Kemana aku pergi pasti Royn ikut, dan dimana ada Royn disitu juga ada aku. Sungguh sesuatu yang selalu ingin dimiliki oleh setiap remaja pada waktu itu. Aku dan Royn selalu membuat teman-teman yang lain tertawa, meski mereka dulu selalu membuatku menangis sebelum Royn ada disini.

Royn adalah sosok lelaki yang sejati, ia juga baik hati, tidak pendendam, sehingga aku tidak pernah bisa untuk membalaskan dendamku kepada mereka yang dulu sering mengejekku. Aku sendiri binggung kenapa Royn yang ganteng itu tidak pernah mengijinkan aku untuk balas dendam. Namun setelah tiga tahun bersama aku mengerti bahwa dendam bukanlah hal terbaik dalam hidup. Pantas saja Royn tidak mau berdendam. Dendam menyakiti hati sendiri, membuat kita kehilangan banyak teman dan tidak ada kedamaian dalam hatiku karena selalu ada hati yang dongkol saat bertemu dengan teman-teman yang lain.

Namun waktu terus berlalu tanpa aku sadari dan tanpa pernah aku pikirkan suatu hal yang menyedihkan menimpa kehidupanku, membuatku kehilangan kebahagiaanku selama tiga tahun terakhir bersama-sama dengan Royn. Saat itu menjelang Ujian Nasional di sekolah, aku dan Royn bermain motor, kita berbalapan namun tanpa aku pernah bayangkan, Royn yang terkenal baik dan ceria itu harus mengalami kecelakaan tepat saat kami bermain, kejadian itu terjadi tepat di depan mataku, aku terkejut bukan kepalang, aku juga ketakutan, tak ada siapapun yang berani mendekati Royn, aku sendiri menggigil ketakutan.

Segera sesudah banyak orang berdatangan Royn segera dilarikan Ke RS Adam Malik Medan. Namun sebulan setelah itu, aku tidak pernah tahu bagaimana keadaannya, Akhirnya aku menemukan kabar bahwa ia akan di bawa keluar negeri untuk dioperasi, yaitu ke New York. Namun tanpa diduga ia menghembuskan nafas terakhirnya sebelum berangkat ke New York. Aku nyaris kehilangan orang yang kusayangi.