Pemecah-belah Terpercaya

Rancah.com – Bibit-bibit pemberontakan di Majapahit timbul dikarenakan Raja Kertarajasa Jayawardhana telah banyak membuat janji kepada orang-orang yang telah berjasa terhadap kerajaan dan tidak semua janji-janji itu mampu ia penuhi. Ini kemudian dimanfaatkan oleh Halayudha, salah seorang kerabat raja, untuk menyebarkan racun-racun hasutannya.

Yang pertama kali menerima racun itu adalah Ranggalawe, yang terjadi hanya beberapa bulan setelah Kertarajasa naik tahta. Pengangkatan Nambi sebagai Mahapatih membuat Ranggalawe kurang berkenan, karena dia lebih menginginkan Lembu Sora, yang merupakan paman dari pihak ibu, yang menurutnya lebih besar jasanya.

Halayudha yang sangat licik melihat peluang untuk menyulut kemarahan Ranggalawe. “Bagi saya, anda yang lebih pantas menjadi patih, karena jasa anda bagi Majapahit jauh lebih besar dibandingkan Nambi!” tutur Halayudha begitu meyakinkan. “Betapa berat perjuangan anda dalam membuka hutan Tarik, dan anda berjuang jauh lebih hebat dalam perang melawan pasukan Mongol. Anda juga memnyumbangkan kuda-kuda perang yang perkasa. Majapahit sudah berhutang begitu banyak kepada anda dan itu tidak ternilai. Prabu Wijaya mengangkat Nambi sebagai patih hanya karena Nambi yang pandai menjilat dan memanfaatkan kedekatannya dengan Prabu! Mohon maaf, saya tahu Nambi adalah kakak anda, tapi saya tidak mampu menyembunyikan kebencian saya kepada penjilat!”

Beberapa menit kemudian Ranggalawe yang termakan hasutan itu sempat mengamuk di pelataran istana, namun ia berhasil ditenangkan oleh Lembu Sora, dan disarankan untuk pulang ke Tuban dan menenangkan diri.

Halayudha ganti mendatangi Nambi, melaporkan bahwa Ranggalawe sedang menyusun rencana pemberontakan di Tuban. “Maaf, Tuan, saya berkewajiban untuk menyampaikan ini. Ranggalawe berkoar-koar di depan saya bahwa dia tidak akan berhenti melakukan perlawanan sampai anda turun dari jabatan anda! Ia sedang merencanakan pemberontakan!”

Maka atas izin raja, Nambi segera berangkat memimpin pasukan Majapahit didampingi Lembu Sora dan Mahisa Anabrang untuk memberi hukuman kepada Ranggalawe. Mendengar kabar datangnya pasukan Majapahit, Ranggalawe pun segera menyiapkan pasukannya. Ia menghadang pasukan Majapahit, dan mereka bertemu di dekat Sungai Tambak Beras, Jombang. Bentrokan hebat pun terjadi di sana. Ranggalawe bertanding melawan Mahisa Anabrang, sampai akhirnya mereka bertempur di dalam sungai. Biarpun senjata di tangan Ranggalawe sangat berbahaya dan kemampuan silatnya hebat, tapi Mahisa Anabrang yang lebih pandai berenang pada akhirnya berhasil menghabisi Ranggalawe secara mengenaskan.

Lembu Sora pada dasarnya adalah orang yang berjiwa besar dan mempunyai ketabahan luar biasa, tapi ketika melihat kematian Ranggalawe di depan matanya, ia pun marah. Ia sebetulnya yakin mampu mengendalikan Ranggalawe dan bisa menghindari terjadinya perang saudara. Akan tetapi Mahisa Anabrang yang memang berpengalaman di medan perang lebih memilih jalan kekerasan. Menurut Mahisa Anabrang, para pemberontak hanya pantas dihukum mati. Lembu Sora sangat marah dan akhirnya membunuh Mahisa Anabrang dari belakang.

Pemberotakan ini mampu ditumpas dengan sukses, meskipun meninggalkan api yang terus membara. Orang-orang pendukung setia Ranggalawe di kemudian hari bergabung dengan barisan sakit hati yang melahirkan pemberontakan-pemberontakan kecil yang tidak terhitung banyaknya.

Sementara itu keluarga Mahisa Anabrang dihasut oleh Halayudha untuk segera menuntut hukuman pengadilan terhadap Sora. Halayudha juga menyampaikan kepada Prabu Wijaya bahwa para bangsawan merasa resah karena raja seolah-olah menutup mata terhadap kesalahan Sora yang membunuh Mahisa Anabrang.

Wijaya pun dengan berat hati akhirnya memberhentikan Sora dari jabatannya dan memutuskan bahwa Sora akan dihukum buang ke Tulembang.

Halayudha yang ditugaskan untuk menyampaikan surat keputusan raja berkata kepada Sora, “Prabu Wijaya sudah berbuat tidak adil terhadap anda! Prabu seakan melupakan begitu saja jasa-jasa anda selama ini. Saya yakin keputusan ini karena hasutan seseorang! Hasutan ini juga yang mengakibatkan gugurnya sahabat saya, Ranggalawe!”

Kecewa atas keputusan itu membuat Lembu Sora berniat menemui raja dan meminta hukuman mati daripada harus diusir meninggalkan tanah airnya.

Halayudha lebih dulu menghadap Nambi. Dia mengatakan bahwa Sora yang marah atas keputusan raja akan membuat kekacauan. Halayudha juga menyampaikannya kepada keluarga dan para pendukung Mahisa Anabrang.

Setelah mendapat ijin dari raja, Nambi pun mempersiapkan pasukan untuk menghadapi Sora yang datang bersama dua pengawalnya, yaitu Gajah Biru dan Juru Demung.

“Apa dia sudah gila?” kata Mahisa Taruna (putra Mahisa Anabrang) geram. “Kamilah yang lebih berhak untuk menuntut keadilan!”

Di saat mentari pagi baru saja mengintip, terjadilah perang yang sangat tidak seimbang di halaman istana, di mana Lembu Sora dan kedua pengawalnya itu akhirnya tewas dikeroyok puluhan prajurit Majapahit.

Peristiwa yang dikenal dengan pemberontakan Nambi terjadi pada tahun 1316. Kisahnya disinggung dalam Nagarakretagama dan Pararaton, serta diuraikan panjang lebar dalam Kidung Sorandaka.

Di dalam pemerintahan Majapahit, Mpu Nambi adalah salah seorang pendukung setia Wangsa Rajasa, sehingga ketika Prabu Jayanagara naik tahta dan menyingkirkan Tribuwana Tunggadewi, Mpu Nambilah yang berada di garda depan untuk menentangnya. Ia menganggap anak keturunan dari Sumatera itu tidak pantas menduduki singgasana Majapahit. Isu tentang darah keturunan memang menjadi ancaman laten yang sulit dihindari saat itu. Ini yang membuat hubungannya dengan Jayanegara semakin memburuk.

Saat itu si tokoh licik, Halayudha, dengan antusias selalu berusaha menciptakan ketegangan di antara Jayanagara dan Nambi. Halayudha memanfaatkan kedekatannya dengan mereka berdua untuk menyusupkan racun-racun “Adu Domba”.

Suatu hari terdengar berita bahwa ayah Nambi sakit keras. Nambi pun mengambil cuti untuk pulang ke Lamajang. Sesampai di sana, ayahnya, Aria Wiraraja, telah meninggal dunia.

Atas perintah raja, Halayudha yang menjabat sebagai Rakyan Patih datang melayat dan menyampaikan ucapan duka cita dari raja. Ia kemudian juga menyarankan agar Nambi memperpanjang cutinya.

“Saya menyayangkan kenapa Baginda Raja sepertinya tidak sudi menyempatkan waktu untuk mengucapkan belasungkawa secara langsung! Bukankah Prabu Aria Wiraraja banyak berjasa kepada Majapahit!” ujar Halayudha, “Saya juga tidak mengerti, mengapa Baginda Raja nampaknya lebih senang apabila Tuan tinggal lebih lama di Lamajang! Saya pribadi sangat prihatin, raja bukan orang yang mengerti bagaimana membalas budi!”

Nambi menyadari hubungannya dengan raja belakangan kurang harmonis, sehingga ia setuju untuk memperpanjang cuti. Pikirannya pun mulai terganggu oleh ucapan-ucapan Halayudha.

Halayudha lalu kembali ke ibu kota untuk menyampaikan kepada raja. Akan tetapi dihadapan raja, ia menyampaikan berita sebaliknya bahwa Nambi menolak untuk kembali ke ibu kota.

“Saya khawatir nampaknya Nambi menolak untuk segera kembali ke Majapahit. Ini adalah sikap melawan titah raja. Jangan-jangan ia sedang mempersiapkan pemberontakan!” hasut Halayudha.

Jayanagara yang temperamen termakan hasutan itu. Amarahnya tersulut. Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia pun mengirim pasukan dipimpin Halayudha untuk menumpas Nambi. Gajah Mada adalah salah satu pasukan yang ikut dalam penyerangan itu.

Nambi yang sebelumnya memang punya firasat buruk, mendapat berita datangnya serangan dari Majapahit. Ia segera mempersiapkan benteng pertahanan di Gending dan Pejarakan. Namun keduanya dapat dihancurkan oleh pasukan Majapahit. Akhirnya Nambi sekeluarga pun tewas dalam peperangan itu. Babad Pararaton menceritakan kejatuhan Lamajang pada tahun Saka “Naganahut-wulan” (Naga Mengigit Bulan) dan dalam Babad Negarakertagama disebutkan tahun “Muktigunapaksarupa” yang keduanya menujukkan angka tahun 1238 Saka atau 1316 Masehi.

Pararaton mengisahkan Nambi mati dalam benteng pertahanannya di desa Rabut Buhayabang, karena dikeroyok oleh Jabung Tarewes, Lembu Peteng, dan Ikal-Ikalan Bang.

Menurut Nagarakretagama yang memimpin penumpasan Nambi bukan Halayudha, melainkan langsung oleh Jayanagara sendiri. Jatuhnya Lamajang ini kemudian membuat kota-kota pelabuhannya seperti Patukangan dan Sadeng melakukan perlawanan yang kemudian dikenal sebagai “Pasadeng” atau perang Sadeng dan Ketha pada tahun 1331 masehi.

Setelah kematian Mpu Nambi, posisi mahapatih diduduki oleh Halayudha. Ini adalah posisi yang diincarnya sejak Majapahit berdiri. Akan tetapi sifat hasutnya tidak berhenti kendatipun dia telah berhasil mencapai impiannya. Dengan posisi barunya sebagai mahapati dia justru dengan leluasa menghasut para Darmaputra, kaum bangsawan loyalis Wijaya, untuk menggulingkan raja yang sah, Jayanegara.