Perjuangan Gajah Mada Bukan Darah Biru Di Hajar Para Pendengki

gajah mada

Sebagai Tokoh Besar yang namanya terukir indah dalam lembaran emas sejarah Nusantara, yang karena terlahir dari rahim rakyat jelata, lantas asal usulnya dikaburkan secara durjana. Keadaan itu selaras pula dengan perjalanan di ujung kehidupannya, yang jejak-jejaknya senantiasa terselimuti kabut tebal. Semua itu seolah menegaskan alasan bahwa kedudukan mulia sebagai mahapatih adalah tabu bagi mereka yang bukan berasal dari golongan Darah Biru. Itulah mungkin kenapa beberapa fakta mengenainya dibiarkan tersembunyi di punggung kegelapan malam.

Si Tokoh Besar itu bernama Gajah Mada. Dia memang mampu naik ke puncak yang begitu tinggi bukan karena bertopang kepada derajad keturunan, melainkan karena cita-cita luhur, tujuan hidup mulia dan perjuangan yang luar biasa. Meskipun suratan nasib terlahir sebagai kaum Sudra harus membuatnya rela asal usulnya diabaikan begitu saja.

Pada saat terjadi pemberontakan Pasadeng, Mahapatih Arya Tadah sedang sakit, sehingga untuk mengemban tugas menumpas pemberontakan dia menunjuk Gajah Mada. Tentu saja ini membuat beberapa kaum bangsawan merasa sakit hati. Diantara mereka adalah Menteri Ra Kembar. Dia yang merasa lebih senior, lebih perkasa dan lebih pandai sempat memprotes penunjukan itu. Kemudian karena protesnya tidak mendapat tanggapan maka kebenciannya kepada Gajah Mada semakin memuncak.

Sebelum pasukan Gajah Mada berangkat ke Sadeng, Menteri Ra Kembar beserta pasukannya berangkat mendahului. Mendengar hal ini Gajah Mada mengirim beberapa orang utusan untuk menemui Ra Kembar.

“Saya utusan Patih Gajah Mada,” seru salah satu dari utusan tersebut, “Mengapa Tuan akan menyerang Sadeng tanpa menunggu perintah dan tidak bersama-sama pasukan yang lain?”

Ra Kembar lalu berdiri di atas pohon yang rebah dan menunjukkan sikap menantang untuk berkelahi. Dengan senjata cambuknya ia mengayunkan ancaman ke setiap utusan itu, sehingga mereka bersembunyi menyelamatkan diri di balik pepohonan. Kehebatan cambuk Ra Kembar memang sanggup menggetarkan mental lawan-lawannya. “Saya tidak bertanggung jawab kepada siapapun!” teriak Ra Kembar sambil mengayun-ayunkan cambuk mautnya, “Dan saya sangat benci dengan orang yang mengepalai kamu sekalian!”

Para utusan itu kemudian meninggalkan Ra Kembar dan melaporkan kepada Gajah Mada. Demi menghindari bentrokan yang justru nantinya akan merugikan pihak Majapahit, Gajah Mada berusaha menahan diri.

Namun, ia telah menyusupkan beberapa pasukan Bhayangkara sebagai telik sandi ke wilayah Keta dan Sadeng. Mereka adalah orang-orang yang sudah dikenal oleh para pimpinan pemberontak dan dianggap netral. Tujuan penyusupan itu adalah untuk menjatuhkan mental dan memecah bela di antara mereka. Diceritakan juga oleh penyusup bahwa Keta dan Sadeng telah dikepung dari dua arah oleh pasukan Gajah Mada.

Tanpa diduga, tidak lama kemudian tiba-tiba datang pasukan Adityawarman dari arah lain yang menyerang Sadeng dengan hebat. Adityawarman memiliki sebilah keris ampuh yang bernama “Sanghyang Tiga Sakti”. Sebelum rasa tercengang dan kebingungan para pemberontak itu selesai, mereka sudah dipaksa menyerah. Akhirnya pemberontakan Sadeng pun bisa dipadamkan dengan kemenangan yang sangat gemilang.

Setelah dianggap mampu menuntaskan tugas memadamkan pemberontakan Keta-Sadeng, tentu saja juga karena bantuan pasukan Adityawarman, akhirnya Gajah Mada siap untuk didaulat menjadi patih mangkubumi menggantikan Arya Tadah. Gajah Mada mendapatkan jabatan dan kekuasaan yang luar biasa. Ia merangkap sebagai patih mangkubumi dan juga sebagai panglima perang kerajaan.

Pada saat berpidato penobatannya itu, sambil mengacungkan keris, ia mengucapkan sumpah Amukti Palapa. Sumpah itu garis besarnya menegaskan bahwa ia akan berpuasa (tidak makan palapa atau rempah-rempah, yang bermakna kenikmatan dunia), sebelum seluruh Nusantara bersatu di bawah kekuasaan Majapahit.

Di dalam rapat di paseban itu, terdengar kata-kata sinis penuh kedengkian dari Ra Kembar, “Manusia keturunan anta-beranta ini benar-benar tidak tahu diri!”

Timpal Ra Banyak, “Dia pikir dia itu keturunan ksatria!” kemudian disambut gelak tawa ejekan Jabung Trewas dan Lembu peteng. “Sungguh tidak tahu malu!”

Gajah Mada sadar bahwa ada beberapa musuh politik di dalam istana yang menganggap bahwa jabatan patih tidak pantas bagi keturunan rakyat jelata. Masih ada orang-orang terhormat di kalangan istana yang merasa lebih layak dan merasa mampu. Tapi mereka tidak berkutik, karena di samping Gajah Mada mendapat dukungan kuat dari keluarga Ratu Tri Buana Tunggadewi, dia juga sangat dicintai rakyat Majapahit.

Di bawah bayang-bayang gerakan para pendengki, ia terus berjuang sungguh-sungguh demi tercapainya cita-cita mulia. Tidak lama setelah kejadian itu, Ra Kembar dan Ra Banyak dicopot dari jabatan menteri dan dihukum karena kesalahan-kesalahannya. Gerakan para pendengki satu per satu terbongkar dan berhasil disingkirkan. Ini merupakan bukti bahwa pengaruh Gajah Mada demikian kuat bagi Sang Ratu.

Kini, dengan menaiki kedudukan yang tinggi itu, maka Patih Mangkubumi Gajah Mada semakin mendapat kekuasaan yang luas. Ia juga semakin dicintai rakyat. Beberapa tahun kemudian, karena kecakapannya, dia juga diangkat menjadi Rajaksa dan juga menjadi Amangkubumi (Perdana Menteri) yang mengepalai kementerian negara. Ia tokoh yang paling revolusioner pada masa itu, yang mendatangkan banyak kekaguman baik dari kalangan kawan maupun lawan. Namanya melambung melampaui nama Majapahit.