Mandi Salju di Negeri Matahari Terbit

Jika saja, di belahan bumi Indonesia ada turun salju, mungkin aku tidak akan jauh-jauh pergi ke Negeri Matahari Terbit, Jepang (The Land of Rising Sun). Konon, orang-orang China lah yang menyebut pertama kali, karena letak geografis Jepang berada di timur, sehingga matahari terbit lebih dulu di Jepang, dahulu bernama Negara Wa, kemudian diubah menjadi Nihon atau Nippon yang berarti asal muasal matahari.   Obsesi mandi salju di The Land of Rising Sun, cukup lama terpendam di hati dan pikiranku, hingga ketika teman-teman semasa sma, mengajak reuni jalan-jalan ke Jepang, aku begitu antusias menyambutnya, pucuk dicinta ulampun tiba.

Perjalanan dimulai dari terminal 3 Bandara Internasional Soekarna Hatta Cengkareng, Jakarta, meski di tiket pesawat tertera jam keberangkatan jam 07.00 WIB, tapi aku sudah tiba di terminal 3 jam 03.00 WIB, begitu semangat menggebu-gebu ingin segera terbang ke Jepang, setelah mendirikan sholat subuh, proses check in, boarding dan akhirnya memasuki pesawat All Nippon Airways (ANA), pramugari-pramugarinya ramah dan sopan, selama perjalanan dapat mendengar audio dan atau melihat film atau melihat di layar monitor posisi keberadaan pesawat dengan ketinggian jelajah dan kecepatannya, konsumsi yang disajikan pun berupa halal meal, rasanya enak menurut lidahku, sehingga perjalanan diatas pesawat tidak terasa membosankan.

Setelah menempuh waktu 8 (delapan) jam, tibalah aku di Bandar Internasional Haneda atau ada juga yang menyebut Bandar Udara Internasional Tokyo, di tahun 2010 menduduki peringkat kelima bandara tersibuk di dunia dan peringkat satu bandara paling tepat waktu (94,3% tepat waktu), terletak di Ota, berjarak 14 km dari stasiunTokyo, rasa bangga, haru dan bahagia bercampur aduk sesaat menginjakan kaki di lobby bandara, kesemerawutan mobil-mobil tidak terlihat seperti di Bandara Soekarno Hatta, tidak ada juga Satuan Pengamanan (Satpam) bandara yang meneriakan melalui pengeras suara agar jangan parkir atau drop penumpang di tempat terlarang, semua terlihat tertib, teratur, rapi dan bersih.

Hampir di semua sudut bandara, terdapat peta dan petunjuk arah begitu banyak ditemui, dalam berbagai bahasa, sehingga sangat mudah bagi wisatawan, sehingga tidak harus berinteraksi dengan orang Jepang yang kurang fasih berbahasa Inggris, rada-rada aneh aksennya dan sulit dimengerti, aku menuju stasiun MRT tujuan Ueno, karena tujuan pertama sesampainya di Bandar Haneda adalah Hotel Ueno, hotel di Jepang memang terkenal kecil-kecil, meskipun demikian Hotel Ueno sangat bersih dan wangi, tarifnya 190 yen per malam dan tidak termasuk sarapan.

Banyak anggapan yang mengatakan sulit bagi traveller muslim untuk menemukan tempat sholat dan makanan halal di Jepang,  anggapan tersebut keliru, ternyata di setiap tempat umum (public area) telah disediakan tempat sholat, meski kecil dan sangat sederhana sekali, namun sudah memenuhi syarat untuk dipergunakan sebagai tempat sholat. Soal makanan halal, bukankah penduduk Jepang terkenal suka makan ikan, bahkan menurut Food Agricultural Organization (FAO), penduduk Jepang sampai saat ini tercatat menduduki peringkat pertama makan ikan, jadi hampir sebagian besar restoran di Jepang berbahan olahan ikan.

Makanan Jepang yang relatif aman dan terjamin kehalalannya, sushi, sashimi, soba dan udon atau tempura tanpa saus, disinyalir mengandung sake, minuman keras khas Jepang dan mirin, namun yang sungguh istimewa dan luar biasa, aku mencicipi makanan ekstrem yang aku coba konsumsi yaitu Chuka Idako, masakan anak gurita, saat mengunyah tentakel Chuka Idako, menimbulkan sensasi tersendiri, lezat dan nikmat sekali, selain di Jepang, menu anak gurita ini hanya ada di 2 (dua) negara lainnya yaitu China dan Korea Selatan.

Ada juga beberapa restoran milik orang Indonesia dan tentu saja menyajikan menu masakan Indonesia, Cabe Indonesian Restaurant Meguro, letaknya tidak jauh dari Kedutaan Besar Indonesia di Meguro Tokyo, kira-kira 5 menit berjalan kaki dari stasiun MRT Meguro, Bintang Café, di Dotonbori Osaka, letaknya diapit 2 (dua) stasiun, stasiun Nagahoribashi dan stasiun Shinsaibashi, dan sangat mudah dikenali, karena bendera Merah Putih di depan café, atau Bagus Indonesia Kitchen, milik orang Jawa, dekorasi pun khas Indonesia banget, menu nasi goreng, rendang, sate atau menu lainnya sungguh lezat, serasa di rumah sendiri.

Tujuan liburanku ke Negeri Matahari Terbit memang semata-mata hanya untuk mewujudkan obsesi mandi salju, secara Jepang memiliki 4 (empat) siklus hukum alam atau 4 (empat) musim, musim panas, gugur, dingin dan semi, jadi untuk bisa mandi salju di Jepang, harus datang pas di musim dingin, hamparan salju berwarna putih bersih ada dimana-mana, semua tempat diselimuti salju dan salju, di jalan, di atap rumah, di kendaraan yang parkir, di pohon-pohon, 3 (tiga) lapis pakaian, termasuk jaket musim dingin yang aku kenakan, tidak kuat menahan hawa dingin yang merasuk sampai terasa ke tulang, wajahku terasa baal dan gigi gemeretuk, suhu mencapai minus 3 derajat Celcius, dingin banget. Tadinya aku berharap, siapa tahu dapat melihat bunga Sakura mekar, sekali merengkuh dayung dua pulau terlampaui, selain mandi salju juga melihat bunga Sakura, tetapi siklus hukum alam tidak bisa dirubah manusia, Sakura hanya mekar di musim semi, jadi tidak ada di musim dingin.

Bertolak belakang pada siang hari, yang mana orang-orang Jepang terlihat sangat sibuk, mobilitas hilir mudik begitu sangat dinamis, Jepang di malam hari, sangat lengang bahkan sepi, tidak seramai di Jakarta bahkan di tempat tinggalku Kebayoran Lama, jam 9 malam waktu setempat, sudah jarang terlihat orang-orang berlalu lalang, lengang dan sepi, jangan harap ada kuliner malam, apalagi seperti tukang nasi goreng atau bubur ayam, atau tukang sekuteng kesukaan aku, sehingga keinginan untuk jalan-jalan dan kuliner malam otomatis aku urungkan, meskipun katanya di Jepang tingkat keamanannya relatif sangat baik, tetapi kan lebih baik mencegah ketimbang menghadapi bahaya sekecil apapun.

Naik Shinkansen atau disebut kereta peluru wajib dijajal selagi di Jepang, dengan kecepatan 300 km/jam, merupakan salah satu kereta tercepat di dunia, bisa dibayangkan Jakarta Surabaya dapat ditempuh hanya dalam tempo 3 (tiga) jam saja, meskipun demikian tidak terasa ada getaran atau guncangan yang berarti, sungguh sensasi yang luar biasa.

Hari terakhir, pagi-pagi harus sudah persiapan mengepak barang-barang, agar semua barang bawaan muat kedalam koper, dengan catatan jangan sampai kelebihan berat, dendanya sangat mahal sekali, perjalanan pulang ke Indonesia berbeda saat perjalanan ke Jepang yang begitu antusias dan bahagia, ada rasa sedih, di Bandara Haneda, aku menyempatkan membeli souvenir oleh-oleh khas Jepang sebagai buah tangan buat keluarga, di balik kaca pesawat All Nippon Airways (ANA), hatiku berbisik lirih, Sayonara Negeri Matahari Terbit, Negeri Sakura, Negeri Samurai, suatu saat nanti aku akan datang kembali mengunjungimu, tunggu saja.