Sepenggal Cerita dari Pulau Penyengat

Masjid Sultan Riau

Waktu temanku mengajakku untuk wisata dan kuliner ke Pulau Penyengat, spontan aku bertanya dimana tuh Pulau Penyengat,  apa yang menarik dari Pulau Penyengat itu, apa kuliner khasnya. Jujur aku belum tahu tentang Pulau Penyengat, boleh jadi kalian juga belum tahu kan. Aku mencari tahu melalui mesin pencari, google, wow, ternyata banyak cerita dan peninggalan sejarah Kerajaan Melayu (Imperium Melayu) di Pulau Penyengat, ada masjid yang dibangun menggunakan telor ayam dan makam Raja Ali Haji pengarang Gurindam 12 yang sangat terkenal waktu aku sekolah dulu. Juga ada kuliner yang sangat khas, gonggong dan teh obeng.

Konon, dari cerita rakyat setempat, dulunya bernama Pulau Air Tawar, para pelaut yang melintas selalu mengambil air tawar di pulau tersebut untuk persediaan air minum sebelum melanjutkan perjalanan, nama Pulau Penyengat berasal dari nama hewan sebangsa serangga yang mempunyai sengat, ketika ada pelaut yang melanggar pantang larangan mengambil air tawar di pulau itu, diserang ratusan serangga berbisa dan menyengat, lalu disebut penyengat, jadilah nama pulau tersebut Pulau Penyengat.

Pulau Penyengat merupakan pulau yang bersejarah dan memiliki kedudukan yang penting dalam peristiwa jatuh bangunnya Imperium Melayu, yang terdiri dari wilayah Kesultanan Johor, Pahang, Siak dan Lingga berlangsung selama 120 tahun, sejak berdirinya Kerajaan Riau di tahun 1722, sampai akhirnya diambil alih sepenuhnya oleh Penjajah Kolonial Belanda pada tahun 1911.

Pada masa Kerajaan Johor-Pahang-Riau-Lingga, terdapat dua posisi jabatan utama, yaitu Yang Dipertuan Besar atau Sultan yang berkedudukan di Daik, Lingga dan Yang Dipertuan Muda yang berkedudukan di Pulau Penyengat, Pulau Penyengat tetap berperan sebagai pusat pemerintahan, angkatan perang, perekonomian dan masalah-masalah operasional lainnya, bahkan pernah digunakan sebagai benteng pertahanan, terbukti dengan adanya banyak meriam di Bukit Kursi. Dari sini terlihat jelas hilir mudik kapal-kapal, sehingga memudahkan melihat kapal-kapal, terutama kapal-kapal musuh yang akan menyerang ke Pulau Penyengat.

Dari bandara Hang Nadim Batam, perjalanan ke pulau penyengat diawali naik mobil ke Pelabuhan Teluk Punggur untuk menyeberang menggunakan kapal motor cepat ke Pelabuhan Sri Bintan Tanjung Pinang. Setibanya di Pelabuhan Sri Bintan Tanjung Pinang, dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju ke dermaga kapal motor kecil atau masyarakat setempat menyebutnya dengan sebutan pompong yang akan membawa ke Pulau Penyengat, disepanjang jalan berjejer rapi para penjual otak-otak khas Tanjung Pinang, dibungkus daun pisang, terbuat dari kepiting dan bahan lainnya, warnanya merah dan rasanya enak, harganya hanya Rp 1.000/bungkus,  tarif perahu pompong Rp 12.000/orang sekali jalan, bisa memuat 12 orang penumpang sekali angkut, memakan waktu sekitar 15 menit untuk samapai ke Pulau Penyengat

Ada gapura bertuliskan Selamat Datang Di Pulau Penyengat, saat kita menginjakan kaki di Pulau Penyengat, nampak terlihat, berdiri sangat anggun dan indahnya masjid berwarna dominan kuning yang menjadi ikon Pulau Penyengat, Masjid Raya Sultan Riau, awalnya dibangun oleh Sultan Mahmud pada tahun 1803. Kemudian pada masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda VII Raja Abdurrahman, tahun 1832 masjid ini direnovasi dalam bentuk yang terlihat saat ini. Menurut sejarahnya, masjid ini dibangun dengan menggunakan campuran putih telur, kapur, pasir dan tanah liat, luar biasa.

Bangunan utama masjid ini berukuran 18 x 20 meter yang ditopang oleh 4 buah tiang beton. Di keempat sudut bangunan, terdapat menara tempat Bilal mengumandangkan adzan, terdpat 13 kubah yang berbentuk seperti bawang. Jumlah keseluruhan menara dan kubah di Masjid Sultan Riau sebanyak 17 buah yang melambangkan jumlah rakaat salat wajib lima waktu sehari semalam.

Memasuki bangunan Masjid Raya Sultan Riau, terpampang  Mushaf al-Quran cukup besar, tulisan tangan dan masih asli, Mushaf al-Quran itu hasil goresan tangan Abdurrahman Stambul, seorang penduduk Pulau Penyengat yang dikirim oleh Kerajaan Lingga ke Mesir untuk memperdalam ilmu Agama Islam, Al-Quran ini diselesaikan pada tahun 1867. Keistimewaan al-Quran Mushaf Abdurrahman Stambul ini adalah banyaknya penggunaan “Ya Busra” serta beberapa rumah huruf yang titiknya sengaja disamarkan sehingga membacanya cenderung berdasarkan interpretasi individu sesuai akal dan ilmunya

Di sisi kiri dan kanan bagian depan masjid terpdat bangunan tambahan yang disebut dengan Rumah Sotoh (tempat pertemuan). Aku sempat duduk berlama-lama sambil memandangi masjid Sultan Riau yang sangat indah itu, sampai datangnya rombongan mahasiswa-mahasiswa, yang mengusirku secara tidak sengaja.

Mudah banget untuk berkeliling di Pulau Penyengat, melihat tempat-tempat menarik lainnya, para penarik becak motor terparkir rapi di depan masjid, tarif becak motor tertera Rp 30.000/jam, secara, Pulau ini hanya berukuran panjang 2.000 meter dan lebar 850 meter, pulau yang sangat kecil, bisa saja ditempuh dengan berjalan kaki, udaranya sangat panas, jangan lupa jika mampir ke warung untuk memesan teh obeng sebagai penghilang dahaga, teh obeng adalah minuman dingin cirri khas Kepulauan Riau, khususnya di Batam dan Tanjung Pinang, teh obeng itu sama dengan teh  es manis, kalau di Jakarta dan kalau teh O sama dengan teh manis panas, lucu juga sebutan minuman itu, obeng dan O.

Tempat pertama yang aku tuju dari masjid Sultan Riau yaitu Komplek Pemakamam Keluarga Kesultanan Johor Riau, terpampang di papan nama-nama yang dimakamkan disitu, makam Engku Puteri (Permaisuri Sultan Mahmud), makam Raja Ahmad, makam Raja Abdullah, makam Raja Aisya Permaisuri dan makam Raja Ali Haji, pahlawan nasional, pengarang Gurindam XII

Lanjut ke rumah Balai Adat Melayu Pulau Penyengat adalah replika rumah adat Melayu yang pernah ada di Pulau Penyengat. Bangunan Balai Adat merupakan rumah panggung khas Melayu yang terbuat dari kayu. Balai Adat difungsikan untuk menyambut tamu atau mengadakan perjamuan bagi orang-orang penting.

Di balai adat, kita bisa berfoto dengan menggenakan pakaian kebesaran sultan penyengat, sewa pakaiannya Rp 50.000, berikut difotoin oleh petugas yang menjaga Balai Adat. Di bagian bawah Balai Adat ini terdapat sumur air tawar yang konon sudah berabad lamanya dan sampai sekarang airnya masih mengalir dan dapat langsung diminum, semacam sumur keramat, jika kita meminum dan membasuh dengan air sumur keramat tersebut, dipercaya bisa membuat sehat dan wajah kembali menjadi muda 10 tahun, kinclong lagi tanpa operasi, tarif sukarelanya Rp 10.000,-

Kemudian, ke tempat Istana Kantor adalah istana dari Yang Dipertuan Muda Riau VIII Raja Ali (1844-1857), atau juga yang disebut dengan Marhum Kantor. Selain digunakan sebagai kediaman, bangunan yang dibangun pada tahun 1844 ini juga difungsikan sebagai kantor oleh Raja Ali Haji, pengarang atau penulis Gurindam XII. Istana Kantor berukuran sekitar 110 m2 dan menempati areal sekitar satu hektar yang seluruhnya dikelilingi tembok. Bangunan dan puing yang masih ada memperlihatkan kemegahannya pada masa lalu.

Mengelilingi Pulau Penyengat hanya memakan waktu sebentar, banyak bangunan-bangunan yang dibiarkan tidak terurus, contohnya rumah tabib, yang tersisa hanya tembok yang sudah mengelupas, menunggu rubuh dan hancur

Banyak juga makam-makam di sisi jalan yang dilalui becak motor, makam-makam iu di batu nisannya ada yang dikasih selimut/kain berwarna kuning, itu menandakan kalau orang yang dimakamkan adalah masih keturunan sultan/bangsawan

Ada rasa kepuasan dan kebanggan tersendiri, telah menikmati pesona keindahan pulau penyengat, pulau bersejarah kerajaan melayu riau, sambil menunggu pompong yang akan membawaku ke pelabuhan sri bintan tanjung pinang terus melanjutkan lagi dengan naik kapal motor ke tanjung punggur batam, ada banyak kapal motor yang melayani Teluk Punggur Batam-Sri Bintang Tanjung Pinang pulang pergi, tarifnya Rp 55.000/orang sekali jalan, aku memang sengaja menginap di Batam, di hotel Pacific Palace, karena masih mau hunting tempat wisata, kuliner dan tempat belanja, Batam syurganya belanja tas-tas bermerk yag dijual mahal di Singapore.

Ternyata gonggong itu sejenis kerang laut, cangkangnya berwarna putih pucat, ada semacam kaki atau capit yang nongol disela-sela cangkangnya, sehingga memudahkan kita untuk menarik daging gonggong itu, seolah-olah sudah diatur oleh Allah swt, masyaallah, kalau capit/kakinya putus, barulah kita menggunakan tusuk gigi untuk mengeluarkan daging gonggong tersebut, rasanya benar-benar lezat, apalagi ditambahin saos sambal kesukaan aku. Sementara teh obeng, hanyalah teh manis pakai es batu, dulu katanya untuk mengaduk-ngaduk teh es manis tersebut menggunakan obeng, jadilah namanya teh obeng sampai sekarang menjadi ikon minuman khas Kepulauan Riau. Kuliner wajib jika kita mengunjungi Kepulauan Riau, dalam hal ini Pulau Penyengat, gonggong dan teh obeng.

Negeriku Indonesia memang kaya banget, kaya akan tempat wisata, bukan hanya Pulau Bali atau Pulau Lombok, ternyata Pulau Penyengat juga tidak kalah indahnya dari sisi alam pantainya, apalagi dari sisi sejarah tentang kejayaan kerajaan melayu riau-johor, hanya ada di pulau penyengat, pulau sangat kecil, yang telah menyengat rasa keingintahuanku untuk mengunjungi pulau-pulau lainnya, terima kasih pulau penyengat, suatu saat nanti aku pasti akan mengunjungi lagi, jika ada umur dan rezeki, baik kesehatan dan keuangan tentunya. Ayo ke Pulau Penyengat !

Penulis: Yanti