Pelacuran, Bisnis yang Tak Pernah Mati, Benarkah?

Semenjak hebohnya prostitusi yang dilakukan artis, kata prostitusi sendiri semakin akrab untuk didengar telinga kita. Walau sekarang pembahasan mengenai praktik prostitusi sedang hangat kembali, sebenarnya praktik prostitusi sudah terjadi sejak lama dan terus terjadi hingga kini. Menurut studi yang dilakukan oleh Ehsan Rostamzadeh dari Law University Kebangsaan Malaysia, bisnis prostitusi sudah ada bahkan sejak 4.000 tahun yang lalu. Dimasa modern kini, kegiatan tersebut sangat ditentang oleh hampir semua agama, namun pada kenyatanya praktik prostitusi pada peradaban kuno awalnya dilaksanakan atas dasar agama. Tindakan prostitusi pertama dilakukan oleh kaum wanita yang menyembah Dewi Ishtar, Dewi cinta dan juga perang. Wanita-wanita tersebut dipercaya menawarkan jasa pemberian kekuatan suci Dewi Ishtar yang disalurkan melalui tubuh wanita pengikutnya. Cara untuk dapat memperoleh  jasa pemberian kekuatan suci tersebut sendiri adalah dengan memberikan persembahan uang pada kuil dewi Ishtar.

Sejak saat itu, praktik prostitusi terus hidup dan berkembang bahkan sampai sekarang. Saat ini, kasus prostitusi kembali menjadi topik hangat berkat tertangkapnya artis wanita yang melakukan praktik prostitusi. Hangatnya kasus tersebut bukan hanya karna tersangkanya merupakan Public Figure, namun juga nominal transaksi yang dianggap fantastis untuk¬† jasa yang bisa dibilang ‘hanya sebentar’. Nominal tersebut berkisar pada angka puluhan bahkan hingga ratusan juta rupiah yang rela dikeluarkan pria hidung belang ber-uang untuk kenikmatan semalam.

Dalam penanganan kasus prostitusi artis tersebut, tersangka artis yang melakukan praktik prostitusi dikenai sanksi wajib lapor kepada Polda sekitar. Hal tersebut dilakukan karna didalam hukum pidana Indonesia, hanya mucikari saja yang dapat diepnjarakan. Tapi apakah dengan tidak adanya mucikari, tindak prostitusi juga akan ikut menghilang? Prostitusi di Indonesia sendiri menentang sila pertama Pancasila, KETUHANAN YANG MAHA ESA. Sebuah sanksi diberikan kepada seseorang dengan harapan memberikan efek jera. Tanpa adanya sanksi, pelaku praktik prostitusi akan berpotensi untuk terus mengulang tindakanya.

Contoh praktik prostitusi diatas menjadi begitu tersorot dan cepat dilakukan penanganan oleh pihak berwajib karena pelakunya merupakan Public Figure yang dikenal oleh banyak kalangan masyarakat. Bagaimana dengan praktik prostitusi yang dilakukan oleh orang-orang biasa? Sudah menjadi rahasia umum bahwa hampir disetiap daerah memiliki tempat yang menjadi pusat praktik prostitusi. Bisnis prostitusi sendiri tidak akan dapat dihilangkan terbukti dengan usianya yang sudah menempuh lebih dari 4.000 tahun. Ketidak mungkinan untuk menghilangkan bisnis prostitusi, pihak berwajib dipercaya secara sengaja lebih memilih untuk membiarkan tempat praktik prostitusi untuk tetap ada namun secara terpusat dengan tujuan mempermudah pihak berwajib melakukan tindakan pengawasan akan kegiatan yang terjadi didalamnya.

Kemajuan teknologi tidak bisa dipungkiri memberikan kemudahan dalam segala aspek kehidupan manusia, kemudahan yang diberikan pun tidak terkecuali diberikan kepada praktik tindakan bisnis prostitusi. Dimasa modern kini, tindakan prostitusi bisa dipasarkan menggunakan teknologi. Dengan kemudahan transaksi serta percakapan yang dapat dijadikan barang bukti, kini dapat dilakukan secara tertutup berkat kemajuan teknologi.

Kemudahan praktik bisnis prostitusi, ditambah dengan tekanan hidup yang semakin hari semakin berat, membuat banyak orang baik pria maupun wanita melakukan tindak praktik prostitusi. Selain seseorang hanya perlu menyediakan ‘tubuh’, sedikit waktu, dan hampir tidak ada kemampuan khusus yang diperlukan, ditambah lagi dengan masyarakat yang semakin hari terlihat semakin menganggap lazim tindakan tersebut membuat jumlah dari praktik kegiatan prostitusi terus meningkat setiap harinya, dan hal tersebut membuat bisnis prostitusi semakin tidak mungkin untuk mati.

Kendati demikian, tindakan prostitusi bagaimanapun juga tidak dapat dibenarkan, setidaknya di Indonesia. Tindakan prostitusi selain melanggar norma-norma yang ada juga beresiko menyebarluaskan penyakit fatal seperti HIV dan AIDS. Maka dari itu, alangkah baiknya kita menghindari tindakan prostitusi, baik sebagai penyedia jasa maupun pemakai jasa.