Kemerdekaan dan Kuasa Kata Bung Karno

Foto: Soekarno dalam Orasi

Tanpa bermaksud mengkultuskan, kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari kuasa kata Bung Karno (1901-1970). Lewat kata-katanya, massa rakyat digerakkan dan menemukan kesadaran. Kemampuan berolah kata telah mendekatkan Bung Karno dengan rakyat yang terbelenggu penjajahan.

Kemampuan Bung Karno berorasi diakui tak sepenuhnya dimiliki tokoh-tokoh pergerakan lain ketika itu. Tokoh-tokoh lain juga kerapkali berorasi, namun beliau memang berbeda. Kecakapan yang juga mengundang kritik. Bung Karno dinilai hanya mengandalkan agitasi. Terlepas dari itu, faktanya kekuatan orasi Bung Karno berkontribusi bagi Indonesia merdeka. Konon kemampuan Bung Karno berkata-kata itu akibat keterpesonaannya menyaksikan pidato H.O.S Tjokroaminoto. Tokoh Sarekat Islam itu dijadikan cermin beliau mengembangkan kemampuan berorasi. Bung Karno mengenal akrab Pak Tjokro ketika bersekolah di Hogere Burger School (HBS) Surabaya, sekitar tahun 1916.

Kuasa kata Bung Karno juga dengan pena. Bisa dikatakan surat kabar yang dipimpin Pak Tjokro menjadi ruang publikasi pertama. Dalam autobiografinya yang dituturkan kepada Cindy Adams, Bung Karno mengenang, “Aku pun menulis untuk surat kabar Pak Cok, Oetoesan Hindia, tetapi dengan nama samaran, karena memang tidak mungkin masuk sekolah Belanda sambil menulis artikel yang menganjurkan penggulingan pemerintah Belanda. Aku membuka kitab Mahabharata untuk memperoleh nama samaranku. Aku memilih nama “Bima” yang berarti Prajurit Besar, juga memiliki arti keberanian dan kepahlawanan. Aku menulis lebih dari 500 artikel. Seluruh Indonesia membicarakannya.”

Beliau melanjutkan, “Ibu, yang tidak bisa membaca dan menulis, serta Bapak, tidak pernah tahu bahwa penulisnya adalah anak mereka. Memang benar, mereka memiliki mimpi besar agar aku menjadi pemimpin dari rakyat, tetapi tidak dalam usia semuda itu! Tidak dalam usia yang begitu muda, yang akan membahayakan pendidikanku di masa mendatang. Bapak tentu akan marah sekali sehingga akan berusaha dengan berbagai cara untuk mencegahku menulis. Jadi aku tidak berani memberi tahu mereka, bahwa Karno kecil dan Bima yang gagah berani adalah orang yang sama.”

Bung Karno tak redup bergerak dengan kata, di atas mimbar, di atas lembaran surat kabar. Beliau pernah terlibat dalam penerbitan surat kabar Sama Tengah. Bung Karno berkecimpung pula dalam surat kabar Fadjar Asia. Kekuatan kata beliau juga tertoreh dalam lembaran Suluh Indonesia Muda, Persatuan Indonesia, dan Fikiran Rakyat, dan lainnya, termasuk di surat kabar bernuansa Islam. Lewat kata, polemik Bung Karno dan Mohammad Natsir pun sempat mengemuka. Dengan Bung Hatta, polemik juga muncul. Konsep pergerakan yang kerapkali memiliki garis berbeda mengundang perdebatan lewat tulisan.

Dengan kata, Bung Karno mengumandangkan seruan kemerdekaan dari satu daerah ke daerah lain. Beliau pun mengaku tidak bisa hidup apabila dijauhkan dari massa rakyat. Kekuatan kata Bung Karno yang juga memicu kecemasan. Penjajah Belanda pun dibuat tak bisa tidur nyenyak. Sampai akhirnya penjara menjadi taruhan dari perjuangan kata-katanya. Dari penjara Banceuy berpindah di penjara Sukamiskin. Kerangkeng ternyata tidak membatasi kekuatan kata Bung Karno. Dari balik penjara, Bung Karno menulis pembelaan dan perlawanan lewat Indonesia Menggugat di depan pengadilan Belanda pada tahun 1930.

Terbebas dari penjara pada tahun 1931, Bung Karno tetap tak bisa diam dengan kata-katanya. Bung Karno pun dijauhkan dari rakyat. Bung Karno diasingkan ke Ende, Pulau Flores (1934-1938), lantas ke Bengkulu (1938-1942). Meskipun tidak lagi bisa naik di atas mimbar, kekuatan kata Bung Karno tak surut. Naskah tonil atau sandiwara pun digubah dan dipentaskan beliau. Dengan tonil antara lain berjudul Rahasia Kelimutu (dua seri), Tahun 1945, Amuk, Nggera Ende, Rendo, Ketkubi, Anak Jedah, Dokter Setan, Maha Iblis, Ero Dinamik, Jula Gubi, dan Siang Hai Rumbai, Bung Karno membakar spirit kemerdekaan dan menentang penjajahan. Lewat tonil berjudul Tahun 1945 tampaknya Bung Karno telah memperkirakan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 (Asvi Warman Adam, 2010).

Dengan kekuatan kata pula, Bung Karno dengan penuh percaya diri berorasi mengutarakan apa dasarnya negara Indonesia pada 1 Juni 1945 di sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Bung Hatta dalam Memoir-nya menyebut bahwa hampir semua anggota sidang bertepuk tangan riuh setelah pidato itu selesai. Semasa menjadi presiden, kata-kata Bung Karno terus membahana. Di hadapan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1960, Bung Karno sempat mengerahkan kekuatan kata-katanya dengan tajuk To Build a World A New.

Ketika Bung Karno menyuarakan pidato, rakyat rela meninggalkan pekerjaan demi mendengarkan presidennya membakar semangat. Rakyat berkumpul di depan radio yang dimiliki terbatas ketika itu. Generasi yang pernah hidup semasa beliau senantiasa mengingatnya. Bung Karno, pengobar kemerdekaan dan pemimpin besar dengan kuasa kata.