Cerpen : Perkataanmu, Menjatuhkanku

Foto : made-blog.com

Hari ini adalah hari yang sangat dinantikan oleh seorang perempuan cantik yang masih duduk di kelas 1 SMA. Dia bernama Nindy. Dia sangat pintar dan sangat suka mencoba hal yang baru. Hal yang sangat dia nantikan pada hari ini sangatlah sederhana yaitu menunggu pengumuman perlombaan menulis puisi yang diikutinya secara online.

“Semoga aku menang, aku udah gak sabar nunggu pengumumannya”. Kata Nindy.

Kebahagiaan yang tengah dirasakan Nindy membuat dirinya ingin menceritakannya kepada teman dekatnya, bernama Shinta. Ketika selesai pelajaran Matematika, Nindy langsung menceritakannya kepada Shinta dan berharap mendapat dukungan dari teman dekatnya tersebut. Namun, di luar dari ekspetasinya, teman dekatnya malah meremehkan dirinya.

“Aduh, kukira lomba apaan, rupanya cuman lomba menulis puisi. Terus lomba yang kamu ikuti ini hadiahnya tidak sebanding lagi dengan usaha yang betul – betul kamu perjuangkan. Aduh Nindy, pikir deh baik – baik. Mending ikut lomba fashion show gitu dong atau kamu jadi youtuber, biar keren.” Kata Shinta meremehkan Nindy.

Mendengarkan perkataan Shinta membuat Nindy merasa begitu kecewa dan segala tujuan yang telah dia rencanakan seakan hancur begitu saja. Nindy sebenarnya telah merencanakan bahwa dia juga akan membuat buku kumpulan puisi, yang telah dia targetkan ketika kelas 2 SMA sudah selesai. Namun, semua impian hancur begitu saja, dengan perkataan orang terdekatnya.

Memang Nindy baru saja menceritakan dirinya ikut perlombaan menulis puisi kepada Shinta, belum sampai menceritakan ingin membuat buku kumpulan puisi. Namun, untuk cerita ikut perlombaan menulis puisi saja sudah diremehkan begitu saja oleh teman dekatnya. “Ah, ya sudahlah. Namanya juga tanggapan dari orang lain. Aku juga harus menerimanya dan pokoknya aku harus berjuang. Semangat untuk diriku sendiri!” Ujar Nindy.

Dengan berjalannya waktu, yang ditunggu – tunggu telah tiba yaitu pengumuman perlombaan menulis puisi pada pukul 12.00 WIB. Betapa bahagianya Nindy bahwa dia berhasil menjadi juara 3. Dia tidak menyangka akan menjadi juara.

“Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah”. Ujar Nindy, bahagia.

Shinta yang berada di sebelah Nindy merasa tidak senang dengan tingkah laku Nindy yang begitu kegirangan. “Kamu ini baru gitu aja udah bangga, terus dimasukkan ke instastory lagi. Aduh Nindy, udah tak ngerti lagi aku sama kamu”. Ujar Shinta mulai meremehkan lagi.

Walaupun begitu Nindy menerima saja apa yang dikatakan oleh temannya. Jujur, sebenarnya itu membuat diri Nindy menjadi sakit hati yang sangat dalam dan benar – benar membuatnya sampai kepikiran terus. Hingga sempat membuatnya menjadi putus asa. Siapa pun orangnya yang merasakan diremehkan mengenai impiannya pasti merasa cukup kecewa. Namun, di dalam diri Nindy dia mencoba untuk meyakinkan bahwa dia tidak boleh menyerah begitu saja dan dia juga mencoba untuk tidak terlalu mendengarkan perkataan orang lain yang meremehkan dirinya.

“Semoga impianku bisa menjadi kenyataan dan bisa membahagiakan orang tuaku”. Ujar Nindy penuh harap.