Inilah Kisahku, Titik Tanpa Koma

Rancah.com – Titik Tanpa Koma

Pagi hari pada Minggu, 04 Desember 2016. Aku bergegas untuk sekedar menyeterika baju yang akan aku kenakan untuk liburan singkat di Kota Malang bersama dia. Sekitar pukul 7 pagi kita berangkat, dan mampir di warung sebentar untuk sarapan dan akhirnya sekitar pukul 10 pagi kita sampai pada lokasi wisata di Malang, yang sebelumnya sudah beberpa kali kita kunjungi.

Sembari melepas lelah, kita berdua duduk berhadapan di sebuah kursi ayunan. Sambil bercerita santai dengan membahas hal-hal yang membuat kita tertawa. Dia terdiam sejenak untuk membalas pesan dari ayahku. Ayah menyayangkan kenapa kita tadi tidak sarapan terlebih dahulu dirumah, dengan jujur dan singkat dia menjawab bahwa saya ingin sarapan bubur ayam diluar. Saya sempat terheran, kenapa ayah yang biasanya selalu mengirim pesan atau menelfonku ternyata malah mengrim pesan pada dia.

Setelah beberapa jam, kami mencoba hal baru yg belum pernah kita coba yaitu naik kuda. Cukup menyenangkan tapi entah kenapa  liburan kali ini tidak se exited liburan-liburan kita sebelumnya. Sekitar pukul stengah 2 kita memutuskan untuk pergi ke Masjid Cheng-Ho yang ada di Kota Pasuruan untuk persiapan menjalankan ibadah Sholat Ashar. Sekitar stengah 3 Kita sampai di Masjid tersebut, akan tetapi waktu itu saya masih belum bisa sholat. Saya hanya menunggu di luar masjid sambal duduk dan bersistirahat. Setelah dari masjid kita memutuskan untuk mencari makan di sepanjang jalan pulang menuju Surabaya, saat makan kita selalu membahas tentang keluarga kita mulai hal yang lucu da hal yang serius. Dan saat itu dia berkata “besok kalau kita ultang tahun, kita ajak orang tua kita makan bareng ya” sedikit kaget dan senang waktu dia berkata seperti itu. Walaupun kita sudah saling bertemu dengan orangtua kita, akan tetapi mereka belum pernah bertemu satu sama lain. Betapa senangnya waktu dia berkata ingin mempertemukan keluarga kita untuk merayakan ulangtahun yang memang jarak perbedaan nya hanya 4 hari saja tepatnya di Bulan Maret mendatang. Terlebih lagi kita sudah menjalin hubungan yang cukup lama.

Sekitar pukul 4 sore saya tiba dirumah. Waktu itu saya menawarkan apakah dia mau mampir dirumah saya untuk sekedar mandi atau bersitirhat, karena mengingat jarak rumah saya dan dia cukup jauh dan memerlukan waktu kurang lebih 1 jam. Dia menolaknya, dengan alasan ingin mandi dan langsung istirhat dirumah saja karena cukup lelah.

Setibanya dirumah, saya memberikan oleh-oleh yang saya beli untuk ayah yaitu ikan bakar. Ayah selalu memesan oleh-oleh saat anaknya pergi kemanapun itu, walaupun hanya sekedar gorengan atau semacamnya. Saat itu ayah sedang menonton TV sambal duduk, mengenakan sarung. Saat aku menawarkan ikan bakar yang aku bawa, beliau hanya merespon dengan singkat dan sambil menonton TV. Dan aku yang biasanya sangat malas untuk mandi sore, langsung mandi dan keramas agar bisa menjalankan ibadah sholat. Setelah itu Hp ku berbunyi, dan ternyata dia mengirim pesan sekedar menginformasikan kalau dia sudah tiba dirumahnya. Aku hanya membalas pesanya untuk segera mandi dan beristirahat.

Baca Juga :   Pasangan Ini Pacaran 20 Tahun, Kenapa Tidak Nikah? Begini Ceritanya

Saat aku sedang bersantai dengan mamaku, tiba-tiba ayah seperti orang kebingungan.. dadanya merasa sesak. Mama mencoba membuatkan air gula hangat untuk ayah, tetapi beberapa menit ayah masih mengeluh merasa sesak nafas. Akhirnya kakak ku bergegas untuk mengantar ayah ke klinik, karena ayah tidak suka jika harus antri ke rumah sakit. Setelah pemeriksaan di klinik, dokter berkata bahwa ayah hanya kelelahan dan harus istirhat total. Aku merasa bersalah karena mengingat pulang pergi kerja dan pulang pergi kuliah aku selalu diantar ayah, belum lagi ayah sibuk dengan kerjaanya. Jadi sangat wajar jika ayah merasa lelah.

Sepulangnya dari klinik, ayah makan dan meminum obatnya dengan mata yg masih kurang fokus karena masih merasa sesak. Hanya beberapa sendok makanan, ayah langsung meminum obat tersebut mungkin karena tidak kuat jika harus menahan rasa sesaknya. Setelah meminum obat, ayah masih merasa sakit. Beliau mencoba berbaring, duduk, dan berdiri akan tetapi beliau masih merasa sesak.. sampai pada akhirnya beliau tidak kuat dan merasa ingin muntah.. Saat muntah dikamar mandi, mamaku mencoba mendampingi beliau, ayah memuntahkan semua obat dan makanan yg dimakan pada hari itu.. Aku yang sedang berada di lantai dua hanya bisa mendengar ayah muntah, merasa kasihan tapi aku hanya berfikir mungkin ayah sedang masuk angin.

Beberpa amenit kemudian mamaku bertiak memanggil kakak ku bahwa ayah jatuh di kamar mandi saat sedang muntah. Aku, kakak, dan semau saudara-saudara mama yang rumahnya memang bersebalahan dengan rumahku langsung berbegas untuk menolong dan mengangkat ayah. Mereka panic karena ayah tidak sadarkan diri. Aku yang merasa bingung hanya bisa menangis dan teriak teriak sembari tidak tahu harus berbuat apa, karena ini pertama kalinya ayah tidak sadarkan diri. Semakin panic ketika saudaraku menyuruhku untuk membacakan doa dan kalimat syahadat di telinga ayah. Aku langsung membentak mereka, karena menutku mereka hanya menakutiku saja. Sekitar 10 menit semua keluarga kebingungan akhirnya ayah di bawa ke rumah sakit dengan cara di bopong beberapa saudaraku mengingat ayahku memiliki postur tubuh yang tinggi dan cukup besar.Saat ayah dibawa kerumah sakit, aku menyusul dengan saudaraku. Aku menelfon dia dengan panic, untuk sekedar mengabari bahwa ayah pingsan tidak sadarkan diri dan sekarang dibawa kerumah sakit. Dia menyuruhku untuk tetap tenang dan berdoa agar ayah baik baik saja.

Baca Juga :   Sebagai Orang Tua, Ini yang Harus Dipenuhi untuk sang Anak

Sesampainya di RS, ayah langsung dibawa ke UGD. Aku dan kakak mencoba menginformasikan ke dokter terkait kronologi kejadian ini. Dokter berkata bahawa ayah sudah dingin, tetapi aku memaksa dokter untuk memberi tindakan terbaik untuk ayah. Mulai dari kejut jantung, di suntuk, oksigen dll sudah di lakukan dokter dengan mata kepalaku sendiri. Dan pada akhirnya dokter berkata “mbak, ini secara medis bapaknya sudah tidak ada. Jika dipaksakan nanti malah kasihan bapaknya badan nya akan biru semua, yang ikhlas ya mbak”. Dokter pun melepas semua alat yang melekat di badan ayah.

Saat itu langit terasa runtuh, kaki dan badan saya lemas tidak bisa berbocara atau menangis. Tanpa disadari adan ini langsung terjatuh kebawah. Seperti mimpi kalua ayah sudah pergi untuk selamanya dengan cara yang sangat amat mendadak dan sehat. Aku yang melihat mama di bopong oleh saudara-saudara berusaha menenengkan mama, sambil saudaraku yang lainya mengabari keluarga yang ada dirumah bahwa ayah sudah tidak ada. Mungkin semua keluarga juga sangat kaget karena memang ayah benar-benar pergi dengan keadaan sehat dan mendadak. Aku juga langsung menghubungi dia, bahwa ayah sudah tidak ada. Dia tidak berkata apa apa dan hanya bertanya sekarang posisiku berada dimana, mungkin karena dia tau bagaimana kaget dan bingungnya saya waktu itu.

Saat semua sudah administrasi sudah selesai, ayah dibawa ke mobil ambulance untuk di mandikan dirumah. Aku, mama, kakak dan pakdhe berada di dalam mobil untuk menemani ayah. Ini adalah pengalaman pertama kalinya aku berada di dalam ambulance terlebih dengan jenazah orang yang sangat aku sayangi. Dengan mendengarkan sirine ambulance, kami semua tidak bisa menangis hanya diam dan termenung menerima kenyataan yang mendadak ini. Sepanjang perjalanan, saat mendekati rumah terlihat banyak orang yang berdiri di pinggir jalan, dalam hati berkata “banyak sekali yang sayang sama ayah sampai mereka menunggu ayah seperti ini”. Sesampainya dirumah semua keluarga kerabat dan tetangga sudah ramai sekali menunggu datangnya ayah, saat pintu di buka mereka seoalah-olah siap untuk menuntunku dan mama. Semua tetangga juga merasa kaget karena jam 1 siang ayah masih bertemu dan menyapa warganya mengingat ayah sudah 12 tahun menjadi RT dikampungku. Rumahku sangat sesak dipenuhi orang-orang yang ingin ta’ziah atau sekedar menenangkan aku dan keluarga. Dan semakin banyak pula sahabat dan rekan-rekan yang dating kerumah untuk memastikan kabar yang mengejutkan tersebut.

Baca Juga :   Rencana Tuhan yang Sangat Indah

Rasanya semua orang ingin memeluk mama dan aku. Aku yang cukup tegar menerima kenyataan ini, sementara mama benar-benar tidak bisa membuka matanya sambil menangis. Dan tidak lama kemudian dia datang bersama kedua orang tua nya dan langsung memelukku di hadapan banyak orang untuk menenangkanku. Rasanya baru tadi sore kita merencanakan untuk makan bersama dengan orang tua kita saat ultah kita beberpa bulan lagi, akan tetapi allah berkehendak lain. Allah memepertemuakn kami semua lebih cepat dari dugaan tetapi saat ayah sudah menjadi jenazah. Tangisku pun tumpah saat itu, sambil berkata dalam hati kenapa ini terlalu cepat. Aku belum sempat membahagiakannya, bagaimana nanti hidupku akan berlangsung tanpa ayah, bagaimana aku menhadiri wisuda tanpanya, melakukan pernikahan tanpa dia, dan menimang anak tanpa nya. Pikiran ku kacau saat itu, bahkan semua teman kantor, teman kampus dan sahabat-sahabatku benar benar kaget mendengar berita kepergain ayah.

Jam menunjukkan pukul 7 malam, keluarga memutuskan untuk memakamkan ayah pada malam itu juga meminginat keesokan hari adalah hari senin dimana semua tetangga dan keluarga mulai beraktifitas. Rasanya ingin berlama lama dengan ayah dirumah tetapi apa boleh buat, pak ustad menyarankan dimakamkan lebih cepat agar ayah juga merasa tenang. Sekitar setengah 10 kami berngkat ke makam untuk memberikan penghormatan terahir untuk ayah tercinta. Cukup kaget dan shock ketika meloihat keadaan di jalan raya yang kondisinya mirip seperti supporter bola sedang konvoi. Begitu banyak yang mencintai ayah sampai banyak sekali orang yang ikut men-sholatkan dan memakamkan. Ayah adalah sosok yang sangat mengisnpirasi, ramah, tegas, dan penyang. Tidak hanya ke keluarga, tetapi kesemua orang yang dia kenang, tak heran jika semua orang ingin ikut memberi penghormatan terahir untuk ayah. Dan sekarang sudah 3 tahun kepergian beliau, masih merasa sedih jika teringat mimpi mimpiku yang belum tercapai untuk membahagiakan dia. Akantetapi aku percaya bahwa Allah sangat lebih mencintai ayah dibandingkan aku dan keluarga. Banyak yang mengatakan bahwa orang baik, dipanggilnya lebih cepat, mungkin itu kata-kata yang pas untuk kepergian ayah.

Teruntuk kalian semua yang masih memiliki orang tua yang lengkap, jangan pernah menyakiti hati mereka karena hatimu akan jauh lebih sakit jika meraka akan meninggalkan mu untuk selamanya.