Cerita Bersambung “HALU” Part 1

IMG_20191029_184639

Rancah.com – Hai, friends. Ada yang suka baca cerita? Yuk, sempatkan diri untuk merehatkan pikiran sejenak untuk hal positif.

Kali ini saya membawa sebuah cerita yang berjudul “Halu” terinspirasi dari lagu Feby Putri.


Selamat Membaca

Senyumanmu, yang indah bagaikan candu, ingin trus ku lihat walau…

Mengapa kamu ingin merasakan cinta lagi? Sementara kamu tahu bahwa itu sangat erat dengan luka. Dekat dengan pedih dan duka.

Mungkin yang terpikir olehmu saat ini adalah sepi, kosong dan hampa. Rindu tentang bahagia yang penuh. Bagimu bersyukur hanya memberi ketenangan sesaat.

Mari kita lihat bagaimana kenyataan yang seharusnya ada dan sedang berlangsung.

Gadis ponytail itu baru melangkahkan kakinya memasuki busway yang siap mengantarkannya dari Senayan–tempat ia bekerja dua tahun terakhir ini–menuju ke Pancoran.

Rupanya di dalam busway koridor 9 ini banyak kursi yang belum terisi. Dia pun memilih bangku paling depan. Menyandarkan kepalanya yang masih terasa berat sambil memejamkan mata. Bersiap menerjang kemacetan jalan raya. Menolak menatapi keramaian yang siap memenuhi pandangannya.

Belum lama terpejam, rasa kantuknya terusik oleh perbincangan dua wanita yang berdiri di sebelahnya.

Dia mengangkat kepala dan memperhatikan sekeliling. Rupanya semua kursi sudah terisi penuh dan tak sedikit penumpang yang berdiri di sepanjang busway ini.

Dia bangkit untuk memberikan kursinya pada seorang wanita tua yang baru masuk lantas berdiri sambil berpegangan pada gantungan bus. Tak sengaja menoleh ke sisi kanan, matanya langsung menangkap sosok yang tak asing baginya. Dari wajah sampingnya yang indah, dia bisa mengenali.

Meski ia tahu sosok itu tak mengenalinya, entah kenapa dadanya terasa sesak dan jantungnya tiba-tiba berdebar kencang.

“Pancoran Barat!” petugas busway memberi intruksi.

Dia menoleh lagi pada sosok itu, dan ternyata sosok itu bangkit. Entah mengapa hal tersebut membuat gadis ponytail bernama Hapshani itu memejamkan mata menahan luapan bahagia.

Ketika Hapshani melangkah keluar, sosok itu juga melakukan hal yang sama. Selama di dalam halte, ia sengaja melambatkan langkahnya agar jaraknya dengan sosok itu tidak begitu dekat.

Meski langkahnya perlahan dan tak begitu dekat, matanya masih terkunci pada punggung itu yang melangkah menuruni tangga halte.

Senyumnya mengembang kala melihat sosok itu rupanya berbelok ke jalan yang sama ke arah biasa Hapshani pulang.

Tak mau menyia-nyiakan momen ini, Hapshani mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Membuka aplikasi kamera, ia pun langsung memfokuskan ke arah sosok itu yang sedang tersenyum sambil berbincang seru dengan kedua temannya.

Ia lupa menyadari jika flash di kameranya menyala. Tak pelak membuat tiga orang itu berbalik dan sontak membuat Hapshani gelapan hingga membuang muka dengan salah tingkah.

Sesekali mencuri pandang, ternyata tiga orang itu masih berhenti sambil memandangnya. Serasa mati kutu, Hapshani pun berbalik dengan langkah cepat. Namun mendadak berhenti saat suara sosok itu menahannya.

“Hei!”

Hapshani memejamkan matanya untuk menahan gejolak di dadanya. Sekujur tubuhnya terasa kaku untuk berbalik. Semua berubah menjadi dingin saat membalas tatapan sosok itu yang sudah berdiri tak jauh darinya.

“Kenapa ya Mbak, diem-diem foto kami?” tanyanya.

“Hmm. Hehehe.” Hapshani tertawa kikuk sambil menggaruk tekuknya yang tak gatal. “Hai, Kak Arpan.” Alhasil dia memberanikan diri untuk menyapa sambil melambaikan tangan.

“Lo kenal gue?” tanya sosok yang bernama Arpan itu.

“Hehe, aku suka nonton video keseharian Kakak di YouTube.”

“Oh, jadi mau foto bareng?”

“Eh.” Wajah Hapshani berubah menjadi terkejut sekaligus terasa panas.

Arpan merebut dengan lembut ponsel di tangan Hapshani lantas menyerahkan ke salah satu temannya, mengabaikan gadis itu yang masih termangu memandangnya. Kemudian ia merangkul pundak gadis itu dan mengajaknya berpose di depan kamera.

“Ehm, makasih ya Kak,” ujar Hapshani setelah menerima kembali ponselnya.

Arpan mengangguk. “Mau kemana? Kok malam-malam jalan sendirian?”

“Habis pulang kerja, Kak,” jawabnya.

“Pulangnya ke mana?”

“Ke—sana, hehe.” Hapshani menunjuk lurus ke arah Arpan melangkah tadi.

“Ya udah, bareng sekalian. Cewek kok pulang malam sendirian.”

Hapshani mengangguk dan melangkah lagi. Langkah kaku yang terasa berat, namun kebahagiaan lebih kuat menyeretnya.



    KOMENTAR