Ia Pergi dengan Coreng Moreng yang Tak Sempat Terhapus

Darinya, Aku tak sekedar mengenal  angka. Huruf hijaiyah dari Alif sampai  Ya. Tapi Aku belajar tentang perjalanan, penerimaan pada nasib dan ikhlas yang kaffah.

“Ikhlas itu, menjalani tanpa meskipun. Sesedih, sesusah dan serumit apapun hidup kita. Jangan mengeluh. Apalagi pada manusia. biarkan semua berjalan diam-diam. Ikuti saja alurnya. Berjuang terus dalam situasi apapun, tanpa putus asa. Kamu tahu, itu ciri orang beriman. Ngaji qur”an, sholat, bersedekah, orang masih bisa melihat kebaikan kita disitu. Ibadah kita. Tapi kalau ikhlas yang seperti itu, selain susah menjalaninya, orang juga akan susah menerka. Kadang kita terlihat seperti orang tolol atau bahkan orang yang ndablek. Parah parahnya, orang akan melihat kita ini jahat, tak punya hati dan banyak lagi…” katanya suatu malam.


“Seseram itukah?” Aku menatapnya agak kurang yakin. Ia tersenyum.

“Yaa..kamu coba saja!”

Kemudian Aku mengerti  itu, saat orang-orang menggunjingkannya melihat kedekatan dia denganku. Bermacam perkataan sinis, fitnah yang kejam bermunculan. Merejam kami.  Aku ingin menjelaskan pada orang-orang. Membantahnya. Atau bahkan melabraknya khusus pada orang-orang yang sangat keterlaluan menuduh kami. Tapi dia melarangku.

“Sudahlah, biarkan saja mereka ngomong apa. Kau hanya menghabiskan tenaga dan emosi saja melayani mereka…”

“Tapi Bang, mereka tidak tahu bahwa kita tak ada hubungan apa-apa. Mereka harus dikasih tahu…”

“Tak usah!” suara dia agak memakai  tekanan. Matanya yang tajam legam dengan bulatan hitamnya yang bening cemerlang, menatapku.

“Mereka tidak tahu, biarkan saja.  Cukup…hanya Tuhan saja yang tahu!” Ia mengangguk, meyakinkanku.

“Bang,,,Aku mendengar dari desas-desus itu, mereka mengatakan kita sebagai dua orang yang sama-sama tak punya moral. Hanya karena mereka  melihat kita jalan berdua. Melihat Abang mengantarkan dan menjemputku. Keluar dari rumahku…” Aku tetap meneruskan aduanku.

Ia tak berkata lagi. Hanya tersenyum samar. Lalu pamit pada sore itu. Diikuti oleh tatapanku, ia melenggang keluar rumah.  Pun tatapan mata yang lain. Yang memandangnya sinis. Setelah itu, omongan sumir semakin mengembang, disertai bumbu-bumbu yang berlebihan.

***

Salahnya, Ia tak pernah mau bicara. Membantah atau menerangkan hal yang sebenarnya. Tapi Ia tetap mengantarkan dan menjemputku tiap pagi dan petang. Membuntuti atau menjajari langkah, melewati sawah dan pinggiran selokan, kebun dan pinggiran hutan. Pun kompleks pekuburan seram di pinggiran jurang itu, untuk sampai ke kampung kami.

Semula Aku hanya penjual pecel, yang berkeliling di sekitar kampung. Ada dua anak yang ditinggalkan Bapaknya tanpa rasa tanggungjawab. Aku seorang Ibu muda, di tengah kemiskinan yang melekat di sebagian besar penduduk kampung kami. Lalu Ia mengajakku kerja di kota kecil di seberang desa kami, di restoran yang cukup ramai dengan gaji yang lumayan. Termakan  cerita orang-orang tentangnya,  semula Aku takut. Pun ketika matanya yang bulat, hitam dengan sorot yang dingin dan tajam itu selalu menatapku lekat jika kami berbicara. Tapi ketakutan itu pelan-pelan lenyap. Menurutku, Ia hanya seorang pemuda misterius yang pendiam.

Aku kemudian mengenal lebih dalam pribadinya. Lewat kata-katanya yang bila berbicara, intonasinya sangat rendah dan hampir tak sampai pada pendengaranku. Meski Ia hanya seorang petugas parkir di depan kantor Bank di samping restoran itu, tapi ada beberapa hal yang diam-diam kukagumi di sebalik penampilannya yang menurut orang-orang mirip preman pasar.

***

“Maling. Andi maling….Susannnn bangun. Kau lihat, Andi kekasih premanmu itu tertangkap basah, maling di rumah Wak haji!” Aku terperangah.

Mukena baru saja lepas  setelah Aku menunaikan shalat subuh. Di luar orang bergemuruh. Ada yang mengetuk pintu rumahku dengan suaranya yang keras memanggil.

“Susaaann..keluar. Kau tak mau melihat kekasihmu bersimbah darah digebuki warga?” itu suara Kang Ujang. Rumahnya di seberang rumahku. Dia dan istrinya selalu menjadi penggosip utama yang kerap mengintai kami seperti mengintai maling.

Dan kini Ia dituduh maling? Aku menangis. Tak percaya. Orang-orang menggiringku ke balai kampung. Benar saja, Andi tertulungkup di lantai seperti seekor anjing. Tanpa alas, bahkan tubuhnya kotor dan bersimpah darah.

Wajah itu tengadah. Tersenyum. Tanpa kata-kata. Titik titik air mata luruh dari mata tajamnya.

“Aku tidak maling…Susan…” Lalu Aku mendengar Ia mengatakan hal hal yang heroik yang Ia lakukan pada subuh itu, hingga orang menuduhnya maling. Aku pernah melihatnya menolong Ibu tua menuntun dan membawakannya belanjaan. Orang-orang di pasar mengira Ia menjambret Ibu itu. Untungnya si Ibu cepat membelanya. Tapi yang terjadi kini hanya khayalanku saja. Ia tak berkata-kata. Hanya air mata yang ironis dengan sesungging senyum di bibirnya yang kulihat, dan tak mewakili pembelaan apa-apa.

Sesaat kemudian, seperti melihat adegan pilu di kisah drama-drama, Aku menyaksikan Ia seperti tersedak. Pada helaan berikutnya, tubuhnya mengejang. Lalu lemas. Aku menjerit. Orang-orang merubung kami, seperti merubung pertunjukan debus yang gagal.

Pemuda misterius itu meninggal dalam kesakitan yang sudah tak mampu Ia rasakan. Amukan warga di subuh itu, yang membabi buta telah menghilangkan nyawanya demikian cepat. Ibunya yang tinggal seorang diri saja, berluruhan air mata, memeluk jasad anak semata wayangnya. Tapi seperti sudah pasrah, Ia tak menangis berlebihan. Ibu itu, seperti si Pemuda, sangat tegar dan merasakan kepedihannya diam-diam.

Rona penyesalan dan rasa bersalah terlihat di wajah beberapa warga yang turut mengeroyoknya. Tapi beberapa lainnya wajahnya datar seperti tak peduli. Aku jadi teringat pada tikus got besar yang sering menyelinap mengacak-acak dapur beberapa warga, lalu tertangkap dan digebuki beramai-ramai hingga kepalanya pecah berdarah-darah. Lalu tikus got malang itu dilemparkan ke tengah jalan dan gepeng terlindas lindas roda kendaraan. Orang-orang yang membunuh tikus got itu seperti puas. Begitulah ekspresi wajah beberpa warga, sama seperti ekspresinya melihat kematian Andi sekarang.

Dengan kematiannya yang tragis seperti itu,  Kukira  tak akan begitu banyak orang yang mengantar kepergiannya yang tragis. Tertangkap basah dengan segenggam uang dan jeritan Wak haji, subuh tadi. Tapi kemudian, ada banyak orang yang tak kukenal, yang berdatangan ke rumah duka. Anak-anak berbaju kumal yang berkerudung dan berkopiah seadanya. Pemuda, Orang-orang tua, sekuriti di kompleks perkantoran itu, bahkan kulihat beberapa pegawai bank yang masih rapi dengan baju kerjanya, menyempatkan diri untuk sekedar mengucapkan belasungkawa. Mereka seperti sangat kehilangan pada sosok pemuda pendiam itu. Beberapa amplop digenggamkan pada tangan Ibu almarhum bersama ucapan duka terdalam.

“Abang selalu memberi makan kami…” kata seorang anak lelaki kumal mewakili kawan-kawannya yang berkumpul disitu. Ia menyampaikan itu dengan  terbata di sela isaknya.

Kemudian datang lagi pasangan muda menghampiri sambil memberikan Segepok amplop. Disesapkan  kepada Ibu alayarham. Muka mereka tunduk dan  muram.

“Andi selalu membantu kami. Ia sisihkan sebagian penghasilannya untuk adik-adik kami”

Subuh itu, menurut sang Ibu, Ia mendatangi rumah Wak haji. Menagih upah beberapa bulan silam saat dirinya mengurus kambing kambing Wak haji. Hingga kambing itu dijual, upah tak jua diberikan. Wak Haji tak mau membayar dengan alasan satu anak kambingnya mati dan upah itu sebagai ganti rugi. Andi tidak terima haknya tak diberikan. Ia telah menmyisihkan waktunya untuk mencari rumput sebelum berangkat dan sepulang Ia bekerja menjadi petugas parkir. Jika libur kerja, Ia giring kambing-kambing itu untuk digembalakan. Hingga kambing itu beranak pinak.

Andi tidak terima jika haknya, keringat yang telkah ia keluarkan, tak dibayarkan oleh wak haji. Selama ini ia menunggu Wak Haji mau bermurah hati membayar upahnya. Tapi harapannya tak kunjung tiba. Ia setengah merampok, mengambil sejumlah uang sesuai jumlah upahnya. Itulah, Wak Haji tidak terima lantas meneriakinya maling.

Aku ingat, beberapa hari ke belakang, Aku pernah mengeluhkan ada iuran untuk bantuan DSP anak sulungku yang belum lunas terbayarkan. Yang menuntut untuk segera diselesaikan. Meski Aku tak mendengar Ia berkata apa-apa, tapi mata tajam itu seakan menerangkan bahwa Ia akan membantuku. Apakah masalah itu yang membuatnya nekat memaksa upahnya dengan setengah merampok Wak haji?

Aku pernah melihatnya berkelahi dengan seorang preman ketika preman itu meminta jatah parkir terlalu besar. Ia juga pernah menggebrak meja menejer restorant saat Aku kerja melebihi waktu dan tak dibayar sebagai lembur.

“Dia sudah bekerja, berikan haknya!”

Aku menangis untuk itu. Demi menagih hak, Ia mesti pergi dengan coreng moreng yang melekat dan tak sempat ia hapus.

“Biarkan saja orang mau anggap apa. Allah tak pernah meleng dan samar pada kebenaran meski disembunyikan di dalam peti sekalipun”  hanya kata-kata itu yang terngiang di telingaku, dengan suara yang rendah dan kini sangat jelas pada pendengaranku.

***



    KOMENTAR