Minimnya Pendewasaan Diri

Jakarta, ibu kota dengan sejuta warna warninya. Mulai dari penduduk, budaya, dan kesemrawutannya. Tapi ibu kota ini tetap menjadi tujuan utama para pencari nafkah, khususnya mereka yang berasal dari berbagai daerah. Penuh, sesak, polusi, macet sudah menjadi bagian dari kehidupan ibu kota Jakarta. Setiap hari dari pagi hingga malam aktifitas yang tak pernah padam layaknya kota 24 jam. Indah memang jika kita melihatnya dari atas fly over dengan penerangan lampu-lampu jalanan atau gedung bertingkat. Tapi, kesemrawutan lalu lintas pun menjadi trending yang ntah kapan akan bisa terselesaikan.

Banyak masyarakat ibu kota yang berkeluh kesah karena kemacetan tak kunjung menghilang. Bagaimana bisa sebuah rutinitas diatasi hanya dalam waktu hitungan menit tanpa adanya kesadaran dari sang pengendali jalananan? Terlalu banyak oknum masyarakat yang merasa dirinyalah yang paling menderita akibat situasi kemacetan ibu kota. Namun, apakah kita pernah berfikir bagaimana caranya mengatasi macet tanpa harus berkomentar?


Pemerintah sudah memberdayakan angkutan umum guna mengurangi tingkat kemacetan, tapi tak sedikit masyarakan yang masih asik dengan beberapa kendaraan yang menjadi koleksinya dirumah. Kemudian, tingkat kesabaran dan disiplin. Tak banyak masyarakat yang mempunyai pemikiran tersebut, seperti halnya ketika lampu merah menyala maka berhentilah sesuai tempat seharusnya. Ada hak orang lain yang harus kita jaga, yakni zebra cross atau lintas penyebrangan. Saking semangatnya lampu merah, hingga pengendara sering lupa bahwa mereka sudah melewati batasan. Kemudian, kebisingan-kebisingan dari suara klakson baik roda dua maupun roda empat.

Lampu isyarat baru menyala warna kuning dan bunyi klakson saling bersautan bak irama musik dangdutan pada sebuah acara pesta perkawinan. Tidak kah mereka paham bahwa untuk melaju harus pada tanda lampu hijau, tidak bisakah menahan sedikit saja demi keselamatan bersama? Berkendara sambil menggunakan ponsel seolah tidak ada waktu untuk membalas whatsapp. Merokok dengan asiknya tanpa peduli pengendara dibelakangnya, membuang tisu dari tepian jendela mobil seolah berfikir bahwa ada petugas kebersihan yang akan membuangnya.

Dimana letak hati nurani? Ini semua salah pemerintah, mengapa pemerintah tidak memberikan kebebasan pada sang penakluk jalanan? Kenapa pemerintah tidak melebarkan jalan supaya kendaraan roda dua dapat melenggang layaknya hari raya lebaran? Memang paling mudah untuk menyalahkan pemerintah, karena kita punya hak untuk menyampaikan pendapat bukan? Kemukakan pendapat dengan cara yang bijak, kemacetan metropolitan hanya dapat diatasi jika semua pengendara dapat disiplin diri, mampu menjaga emosionalnya, dan sedikit lebih bersabar. Loh, peraturan kan dibuat untuk dilanggar! Pasti pembaca sering mendengar kalimat tersebut, ini adalah contoh opini yang melenceng jauh tanpa arah. Manusia merupakan subuyek hukum, yang kehidupannya di atur oleh peraturan hukum sejak ia lahir hingga meninggal.

Sadarkah kita, sejak dilahirkan kita membutuhkan Akte kelahiran begitu juga saat kita meninggal, membutuhkan Akte kematian. Lantas dimana kepedulian kita terhadap negara ini jika hidup di ibu kota saja kita tidak mampu untuk mentaati peraturan yang ada. Menerobos lampu merah hanya karena merasa dikejar waktu, tidakkah punya pengaturan waktu dalam hidup? Melaju cantik di lintasan bushway, kemudian terkena razia om polisi yang bertugas, namun dengan dalih sebagai seorang pejabat negara berlaku seenaknya.

Peraturan tetaplah peraturan yang diberlakukan sama baik untuk pejabat negara maupun masyarakat biasa. Tentu saja karena beda etika harusnya para petinggi memberikan contoh bagi para masyarakat yang mungkin masih awam akan peraturan. Bukan lantas memberikan contoh dengan menggunakan jabatannya sebagai jalur “Damai” dengan aparat kepolisian. Miris, memang benar jika dipikirkan. Solusinya adalah bagaimana carai untuk disiplin diri, berikan contoh yang baik untuk siapapun. Jika bukan kita sendiri yang memulai, lantas kapan waktu yang tepat untuk memulai. Jangan selalu mengeluh dengan apa yang negara berikan. tapu berfikirlah bagaimana cara kita memberikan yang terbaik untuk negara. Indonesia negara berkembang, kapan bisa berubah jadi negara maju jika SDM yang ada tidak memperdulikan kemajuan negaranya.

Protes, ya memang itu hal yang paling gampang. Indonesia punya pemerintah, untuk apa jika tidak dijadikan sasaran kambing hitam. Memang mudah melihat dan menyalahkan orang lain, tapi sadarkah kita jika kita mungkin punya salah yang lebih besar dari orang kita persalahkan. Cobalah berbenah diri, introspeksi diri karena semakin tinggi ilmu harusnya semakin paham akan etika hidup. Karena akan percuma jika berilmu tinggi tapi gagal dalam beretika. Marilah kita semua sadar diri, mulai dari diri sendiri. Bersabar dan disiplin demi kelancaran dan kebahagiaan bersama, tidak perlu meninggikan ego karena itu hanya akan merusak popularitas pribadi. Belajar dewasa dengan mendewasakan pola pikir, sehingga kita dapat memetik manfaat untuk bersama.



    KOMENTAR