Petani dan Pertanian Indonesia Vs Pandemik Covid-19

Petani dan Pertanian Indonesia Vs Pandemik Covid-19
Ilustrasi petani

Petani sedang mengalami kondisi yang tragis ditengah pandemic covid 19 dimana pada saat kondisi ketahanan pangan semakin langkah akibat adanya pembatasan penggunaan layanan transportasi untuk mengurangi penyebaran covid 19. Menyebabkan beberapa komoditas pertanian mengalami penurunan harga hingga sampai harga terendah di beberapa wilayah pulau Jawa. Penurunan harga ini menyebabkan kerugian bagi petani dan juga kelangsungan hidup petani. Petani yang berada di beberapa wilayah pulau  Jawa seperti Yogyakarta dan Jawa Tengah mengalami penurunan harga yang sangat drastis  beberapa  komoditas pertanian seperti cabe merah/hijau, terong, sawi, timun, tomat, dan buah-buahan.

Berikut  contoh, dengan menggunakan  aplikasi cek harga pasar milik Kementerian Pertanian, SIHARGA, harga cabe merah keriting di beberapa pasar di Yogyakarta yang sebelumnya harga sebesar  Rp. 70.000/ kg pada awal bulan Februari 2020 turun sangat drastis menjadi Rp. 17.500/kg pada April 2020, sementara di tingkat petani harga cabe merah keriting hanya Rp. 7.000,00 per kilogram per 30 April 2020. Tentunya hal tersebut berdampak kepada  petani di beberapa wilayah  Indonesia terutama Jawa karena mengalami kerugian yang cukup besar dan terancam  tidak bisa  bercocok tanam  lagi. Akan tetapi, ada beberapa komoditas yang sangat meningkat harganya di pasar ternyata setelah ditanya kepada para petani harga yang melonjak dipasaran sangat jauh dengan apa yang diterima oleh petani. Menurut Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperi Wibawaningsih memberitahukan  beberapa komoditas yang mengalami peningkatan harga diantaranya adalah kedelai, gula pasir, bawang putih, dan cabe merah sikitar 30-50% (wartaekonomi, 12 April 2020).

Akibat pandemic Covid 19, menyebabkan kinerja pertanian Indonesia ikut menurut berdasarkan data Badan Pusat Statistik(BPS). Pertumbuhan Produk Domestik Bruto(PDB) berdasarkan lapangan usaha  2018-2020 pada sector pertanian memiliki pertumbuhan yang sangat rendah sekitar 0.02% YOY dan pertumbuhan PDB pertanian cenderung melambat pada 2018 pertumbuhannya sekitar 4% dan 2019 mengalami penurunan dibawah 4%. Jikalau kita lihat berdasarkan PDB perkapita petani dapat kita lihat bahwa nilainya paling rendah dibandingkan sector Industri maupun keseluruhan yaitu hanya mendapatkan sebesar Rp33.8 Juta sedangkan sector Industri bisa mencapai Rp122.4Juta. hal tersebut menunjukan bahwa pertanian dan petani kita semakin hilang ditelan Zaman dan digantikan oleh sector Industri.

Apabila kita ketahui pemerintah sudah membuat UU No 18 Tahun 2012 mengenai Pangan yang mana isi pasalnya adalah menjadikan Import sebagai pilihan terakhir dalam memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri dan  mampu memberdayakan petani dan produsen pangan dalam meningkatkan kesejahteraaan petani di Indonesia . Berdasarkan aturan mengenai pangan diatas, seharusnya pemerintah mencoba mengakselerasi pembangunan pertanian dalam rangka meningkatkan kesejahteraan petani.