Yang Pernah LDR Pasti Setuju, Baca Selengkapnya

Ilustrasi
Rancah.com – Pertama membaca puisi ini membuat saya tersenyum pahit. Mengingat masa-masa yang sulit, terpisah dari sang kekasih. Sesekali memandang foto dan melamun mengingat kenangan bersama.
 
Puisi tersebut berbunyi:
 
Janganlah Jauh
bagai bulan
hanya bisa dipandang.
 
Jadilah angin
membelai rambutku.
 
Dan kita nanti
akan selalu berjamahan.
 
Sagan, 1958
Sumber: Puisi-puisi Cinta
 
Puisi ini cukup mudah dimengerti bagi semua kalangan. Bahasa yang digunakan penyair tidak sulit untuk ditafsirkan. Majas yang digunakan penyair sangat akrab dengan keseharian kita seperti kata “bulan” dan “angin” yang sering kita jumpai dalam keseharian. Sehingga majas tersebut mudah dipahami.
 
Puisi ini juga sangat singkat, jelas, dan padat. Dengan tiga bait ini penyair mengungkapkan rasa ‘rindu’ dengan sosok yang dirindukannya; sosok yang selalu ditunggu kehadirannya. Dalam puisi ini kita tidak dapat menentukan siapa ‘sosok yang dirindukannya.’ Dan ada kemungkinan juga penyair hanya membuatkan sebuah puisi saja untuk orang lain sebagai ungkapan perasaan seseorang tersebut – atau dapat dikatakan puisi ini dibuat dengan tujuan bukan menyampaikan perasaan penyair.
 
Sebagaimana jumlah bait pada puisi ini, penyair menyampaikan tiga gagasan dalam puisi ini. Setiap gagasan disampaikan pada setiap bait puisi. Hal ini ditandai dengan tanda titik (.) pada akhir setiap baitnya.
 
Bait pertama berbunyi:
 
Janganlah Jauh
bagai bulan
hanya bisa dipandang.
 
Penyair seolah-olah berkata kepada seseorang agar tidak jauh bagaikan bulan yang hanya bisa dipandang saja. Inilah gagasan pertama yang disampaikan penyair. Rasa ingin berjumpa atau biasa disebut dengan rindu penyair dengan seseorang tersebut sangat besar. Maka, penyair berkata “Janganlah jauh/ bagai bulan/ hanya bisa dipandang.”
 
Bait kedua berbunyi:
 
Jadilah angin
membelai rambutku.
 
Penyair menginginkan seseorang yang ‘ditunggu’ ini bagaikan ‘angin’ yang membelai rambut. Mengapa bagaikan ‘angin?’ Karena penyair menginginkan seseorang ini selalu ada dan menemani. Lalu, apa hubungannya dengan angin? Sebagaimana yang kita ketahui, angin selalu ‘menemani’ kita. Di mana pun kita berada dapat dipastikan di sana terdapat angin yang berhembus.
 
Kemudian, apa maksud dari ‘membelai rambutku?’ Bagi mereka yang berpasangan, membelai rambut pasangannya adalah hal yang romantis sekaligus memberikan rasa kasih sayangnya kepada sang kekasih.
 
Bait ketiga atau terakhir berbunyi:
 
Dan kita nanti
akan selalu berjamahan.
 
Di akhir bait, penyair menyampaikan inti dari semuanya, yaitu ‘Dan kita nanti
akan selalu berjamahan.’ Tidak ada lagi jarak antara penyair atau seseorang yang terwakili perasaanya dengan puisi ini dengan kekasih idamannya.
 
Saya pribadi pun pernah merasakannya. Terpisah dengan sang kekasih memang bukanlah perkara yang mudah. Apalagi ketika rasa rindu itu sudah ‘memuncak.’