Orang Tua atau Calon Orang Tua Bacalah Ini!

Panjang cerita, panjang perjalanan, panjang langkah, panjang rasa suka dan duka ini, ibu. Aku ingin bercerita “Tentang cinta dan hidupku pagi hari.”
Puisi tersebut berbunyi:

SURAT DARI IBU

Pergi ke dunia luas, anakku sayang
pergi ke hidup bebas !
Selama angin masih angin buritan
dan matahari pagi menyinar daun-daunan
dalam rimba dan padang hijau.

Pergi ke laut lepas, anakku sayang
pergi ke alam bebas !
Selama hari belum petang

dan warna senja belum kemerah-merahan
menutup pintu waktu lampau.

Jika bayang telah pudar
dan elang laut pulang kesarang
angin bertiup ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri
dan nakhoda sudah tahu pedoman
boleh engkau datang padaku !

Kembali pulang, anakku sayang
kembali ke balik malam !
Jika kapalmu telah rapat ke tepi
Kita akan bercerita
“Tentang cinta dan hidupmu pagi hari.”

Ketika seorang anak terlahir ke dunia ini, pada hakikatnya mereka sudah memiliki haknya sendiri. Orang tua boleh mengatur jalan hidup anaknya agar menjadi anak yang lebih baik darinya. Namun, jangan sampai kalian membatasi jalan hidup anak.
Wahai para orang tua atau calon orang tua atau yang bercita-cita menjadi orang tua yang saya hormati, jangan sewaktu-waktu anak kalian batasi gerak mereka dengan keinginan dan egois kalian belaka. Ketika mereka menginginkan sesuatu jangan kau tolak dengan mentah-mentah. Jika, memang hal itu buruk menurut pandangan kalian, jelaskanlah dengan baik, sehingga mereka dapat mengerti mengapa kalian menolak.

Wahai para orang tua atau calon orang tua atau yang bercita-cita menjadi orang tua yang saya hormati, kalian boleh saja berharap kepada anak kalian. Tidak ada yang melarang hal ini. Namun, ada satu hal yang perlu kalian ketahui, anak kalian juga manusia yang tidak luput dari kesalahan dan kekurangan. Jangan pernah sekali-kali memaksa anak kalian. Kemampuan setiap anak berbeda-beda adanya. Dan satu hal lagi, ketika anak tidak melakukan kesalahan, jangan kau maki. Tapi, luruskanlah mereka.

Wahai para orang tua atau calon orang tua atau yang bercita-cita menjadi orang tua yang saya hormati, kalian adalah sosok guru, teman, sahabat bagi anak kalian. Kalian boleh meminta bantuan mereka. Tapi, ada satu hal yang harus kalian tekankan, “meminta tolong” bukan “memerintah” yang mana seolah-olah anak kalian pembantu. Memang kalian berjasa atau akan berjasa karena telah membesarkan anak kalian. Namun, yang menginginkan kehadiran seorang anak itu kalian. Jadi, sudah sewajarnya apabila kalian yang harus membesarkan anak kalian.

Wahai para orang tua atau calon orang tua atau yang bercita-cita menjadi orang tua yang saya hormati, jangan jadikan status kalian sebagai penghambat anak untuk berkembang menjadi yang lebih baik. Jangan paksakan kehendak kalian, sehingga anak tak bisa berbuat apa-apa. Jangan anggap anak seperti sapi atau kambing gembala oleh kalian. Anggaplah anak sebagai murid yang sedang kalian bimbing dan kalianlah guru yang akan mengarahkan anak akan kemana, tanpa adanya kekangan yang membatasi gerak, tanpa adanya tali yang menjadikan mereka takut. Sebagaimana pada dua bait terakhir dalam puisi Asrul.

Ketika seorang anak sudah mencapai kesuksesan, sosok orang tua lah yang menjadi tempat kembali. Orang tua lah yang dirindukan keberadaannya, karena merekalah yang menjadikan anak bisa sukses.