Meningkatkan Daya Beli Masyarakat Indonesia di Kala Pandemik dan Resesi yang Mengancam dengan Memanfaatkan E-Commerce dan Social Media

E-commerce

Indonesia sedang mengalami permasalahan yang cukup parah yaitu Pandemik Covid 19. Pandemik ini telah merusak seluruh struktur masyarakat baik struktur sosial dan struktur ekonomi. Masalah ini berawal dari menyebarnya Covid 19 yang berasal dari Wuhan,Tiongkok yang pertama kali ditemukan kasusnya pada tanggal 31 Desember 2019. Pada saat itu, infeksi virus ini  gejalanya mirip dengan pneumonia dan awal penyebarannya  diyakini oleh para ahli  berasal dari pasar dan hewan dan ikan laut di Wuhan, Provinsi Hubei.

Berdasarkan data statistik yang telah dikumpulkan oleh John Hopkins University di Amerika Serikat memberikan gambaran penyebaran yang  hampir 82% dari sekitar 75.000 kasus virus corona berasal dari kawasan ini. Setelah itu, virus menyebar ke seluruh dunia sampai hari ini per (25/7/2020) kasus Corona sudah mencapai 15.940.381 orang yang terinfeksi berdasarkan data real time Worldometers. Untuk pasien yang sudah sembuh sebanyak 9.723.949 sedangkan pasien Covid 19 yang meninggal sebanyak 642.688 orang di seluruh dunia. Untuk kasus di Indonesia sendiri dengan melihat  data terakhir yang dimuat dari BPNB atau Badan Nasional Penanggulangan Bencana  menyatakan kasus terkonfirmasi positif coronahingga hari ini telah mencapai angka 95.418 pasien. Angka ini mengalami pertambahan pasien covid sebanyak 1762 kasus jika dibandingkan dengan data terakhir yang dipublikasikan oleh BPNB.

Oleh karena peningkatan kasus positif  Covid 19 terus meningkat pemerintah seluruh Negara yang terkena dampak melakukan Lockdown atau penutupan sementara Negara mereka dari kunjungan wisatawan asing dan bekerja dari Rumah (WFH) serta bagi negara yang memiliki ekonomi relatif kecil seperti Indonesia melakukan PSBB(Pembatasan Sosial Skala Besar). Hal inilah yang menyebabkan ekonomi dunia terguncang khususnya Indonesia dimana banyak terjadi pemutusan hubungan kerja akibat banyak yang dirumahkan untuk mencegah penyebaran Covid 19, banyaknya UMKM yang tutup akibat masyarakat yang sedikit membeli dagangan mereka, hingga tagihan kredit macet semakin banyak.

Untuk mencegah terjadinya keributan dikalangan masyarakat akibat keputusan PSBB ysng menyebabkan daya beli masyarakat turun Pemerintah memberikan Bantuan Langsung Tunai kemasyarakat, pemberian tunggakan kredit, hingga untuk sector industry yang terdampak pemerintah memberikan pengurangan pajak agar perusahaan tidak banyak memutuskan hubungan kerja kepada pegawainya. Walaupun sudah diberikan berbagai kebijakan oleh pemerintah untuk membantu  masyarakat dalam meningkatkan daya belinya  ternyata masih belum effektif malah sebaliknya menyebabkan ekonomi Indonesia secara makro mengalami penurunan sangat drastic dilihat dari proyeksi Pertumbuhan PDB rill pada kuartal ke II yang negative hingga -4,3% dan apabila pada kuartal ke III mengalami negative juga akan menyebabkan Indonesia masuk ke dalam jurang Resesi.

Pertanyaannya adalah, lalu bagaimana pemerintah  menjaga daya beli masyarakat di tengah peningkatan kasus positif  Covid dan mulai masuk jurang Resesi ?.  Jawabannya adalah  masyarakat  diberikan modal oleh pemerintah  lalu diarahkan  untuk bejualan  dengan menggunakan media online khususnya E-Commerce dan  Social Media. Karena berdasarkan  Sea Insights, yang diunduh pada 2 Juli 2020 memuat data mengenai  kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat yang diwakili oleh koresponden menyatakan Social media dan  belanja di E- commerce lah yang paling sering dilakukan saat pandemic sebanyak 54 koresponden  memilih Social Media dan 51 memilih belanja di E- commerce sedangkan untuk berjualan di E -commerce yang paling sedikit yaitu hanya 45 koresponden.

Hal inilah yang harus dimanfaatkan untuk menggait keuntungan dan meningkatkan daya beli masyrakat khususnya UMKM dikarenakan tingkat konsumsi masyarakat begitu tinggi untuk berbelanja di E- commerce disaat pandemic dan krisis ini

.